Mayoritas Masyarakat Indonesia Berpenghasilan di Bawah Rp 27 Juta


TEMPO Interaktif, Jakarta - Mayoritas masyarakat di Indonesia selama tahun 2010 masih memiliki penghasilan di bawah pendapatan per kapita. Namun pemerataan perekonomian dinilai terus membaik.


"Saat ini baru 40 persen masyarakat yang mampu memiliki penghasilan di atas pendapatan per kapita," kata Kepala Badan Pusat Statistik, Rusman Heriawan kepada Tempo, Rabu (9/2). Dia merujuk hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukannya pada tahun lalu.

Selama 2010, perekonomian di Indonesia tumbuh sebesar 6,1 persen, jauh lebih tinggi di banding 2009 yang hanya tumbuh 4,5 persen. Pertumbuhan itu menyebabkan pendapatan per kapita masyarakat meningkat, dari Rp 23,9 juta menjadi Rp 27 juta.

Meski demikian, ternyata mayoritas masyarakat masih memiliki penghasilan di bawah Rp 27 juta dalam setahun. "Namun secara umum kualitas ekonomi masyarakat tetap membaik," kata Rusman.

Dia membandingkan, selama 2005 lalu, sebanyak 60 persen masyarakat masuk ke golongan masyarakat berpenghasilan rendah. Namun di 2010 kemarin, jumlahnya berkurang menjadi 55 persen. "Sedangkan golongan menengah dan atas ada peningkatan dari sisi jumlah," ujarnya.

Dia mengakui, perekonomian di Indonesia belum tumbuh secara merata. Kesenjangan perekonomian tersebut dihitung menggunakan indeks gini.

Di beberapa negara maju, penghitungan indeks gini dibuat berdasarkan pendapatan masyarakat. Namun BPS selama ini menghitungnya berdasarkan pengeluaran masyarakat. Dia beralasan, penghitungan indeks berdasarkan pendapatan hanya bisa dilakukan di negara yang telah memiliki pencatatan pajak secara baik.

Rusman merinci, indeks gini di Indonesia semakin mengecil selama tiga tahun terakhir. Pada 2010, indeks gini di Indonesia berada di angka 0,33 poin.Tiga tahun lalu, indeks gini masih mencapai 0,38 poin. "Semakin kecil angkanya, kesenjangan semakin menyempit," kata Rusman.

Pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, kesenjangan perekonomian pada dasarnya hanya dihitung berdasarkan indeks gini. "Semua negara juga pakai itu," jelasnya.

Dia yakin, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi mampu memperpendek kesenjangan perekonomian masyarakat. "Saat ini masyarakat bawah juga turut menikmati pertumbuhan ekonomi," kata Purbaya.

Dia menyebut, indeks gini yang berada di posisi 0,33 adalah cukup bagus. "Meskipun belum terbaik, sebab ada beberapa negara yang mampu memiliki indeks sebesar 0,2 poin," katanya. Namun, masih banyak negara yang memiliki indeks lebih besar, hingga maksimal 0,7 poin.

AHMAD RAFIQ



Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X