foto

ANTARA/Gabriela Rosari RK

Batam Anggarkan Rp 2 Triliun Bangun Jalan Tol

TEMPO Interaktif, Batam - Ketua Badan Pengusahaan Batam (dulu Otorita Batam), Mustofa Wijaya, mengatakan pihaknya menganggarkan dana Rp 2 triliun untuk membangun infrastruktur, khususnya jalan tol.

Jalan tol ini dinilai mendesak karena mobilisasi barang dari pelabuhan menuju kawasan industri semakin meningkat. "Jadi yang utama masalah infrastruktur itu," kata Mustofa Wijaya menjawab Tempo, Kamis (10/2).

Sebagai daerah industri dan merupakan kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas, ujarnya, diperlukan infrastruktur tingkat internasional guna menunjang aktivitas bongkar muat barang. Faktor kecepatan dan efisiensi merupakan hal penting bagi para pelaku usaha yang bergelut bidang industri.

Menurutnya, ada beberapa hal penting untuk menjadi daerah industri yang bertumpu pada keluar-masuknya barang dari dan ke Batam. Selain jalan tol, juga meningkatkan sarana komunikasi dan IT, sebab pelayanan tidak lagi mengandalkan tenaga manusia bila faktor efisiensi menjadi andalan. "Pokoknya jangan sampai kalah oleh negara lain," lanjut Mustofa Wijaya.

Batam, kata Mustofa, secara iklim untuk investasi cukup baik dan diharapkan pertumbuhannya mencapai 15 persen hingga tahun ini. Oleh sebab itu harus meningkatkan pelayanan yang berbasis IT. Jalan-jalan arteri dan jalan menuju kawasan industri akan dibangun, dan ini sedang digodok oleh pihak Badan Pengelola Jalan Tol.

Jalan tol yang akan dibangun pihak BP Batam dari Batu Ampar ke Bandara Hang Nadim-Batam Ampar sebagai terminal kargo, kemudian ke Muka Kuning, sebuah kawasan industri.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Provinsi Kepulauan Riau, Johanes Kennedy Aritonang, menyambut baik rencana pihak BP Batam itu untuk membangun jalan tol tersebut. " Akan mengurangi kemacetan," katanya menjawab Tempo.

Johanes Kennedy sependapat dengan Mustofa Wijaya bahwa bila alat atau barang industri tidak tertahan di pelabuhan akan menjadikan investor tidak mengalami kerugian akibat denda sandar kapal itu.

Menurutnya, produk yang dibuat di kawasan industri adalah kebutuhan berbagai negara di Eropa, Jepang dan Amerika. Biasanya pihak pengusaha dikenai denda (klaim) bila finish produknya terlambat tiba di negara tujuan.

Jon menjelaskan hingga akhir Juni tahun 2010 nilai total investasi swasta di Batam mencapai US$ 13,738 juta, terdiri dari investasi domestik US$ 5,721 juta (42,82 persen), investasi asing (PMA) senilai US$ 5,244 juta (36,40 persen) dan investasi pemerintah senilai US$ 2,772 juta (20,78 persen).

Terdapat 517 perusahaan modal asing di Batam, sedangkan tenaga kerja terserap di Batam sebanyak 274,978 orang. Dari jumlah itu 5,127 orang adalah pekerja asing.

RUMBADI DALLE