foto

Kacang kedelai.Foto ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Kedelai Mahal Karena Importir Pakai Harga Desember

TEMPO Interaktif, Jakarta - Selain lonjakan harga dunia, tingginya harga kedelai impor ditengarai akibat importir membeli kedelai sejak Desember berdasarkan harga dengan bea masuk lima persen. “Padahal bea masuk nol persen baru berlaku akhir Januari sehingga harganya tinggi,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Gunaryo kepada Tempo di Jakarta, Ahad (13/2).

Sebanyak 70 persen kebutuhan kedelai Indonesia diimpor, sebagian besar berasal dari Amerika Serikat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sepanjang tahun lalu realisasi impor kedelai dari Amerika mencapai 1,58 juta ton, disusul impor dari Argentina sebanyak 782 ribu ton, dan Malaysia 594 ribu ton.

Harga kedelai impor pada Januari tahun ini rata-rata Rp 8.142 per kilogram, sedangkan harga kedelai lokal Rp 8.651 per kg. Di pasar internasional harga kedelai per 11 Februari mencapai US$ 543 per metrik ton. Namun Gunaryo yakin tingginya harga kedelai dalam negeri tak berlangsung lama.

Dia menganggap tak perlu ada instrumen kebijakan dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga kedelai. “Situasi mahalnya harga kedelai persis seperti pada 2008. Tapi waktu itu harga naik pada Juni dan terus turun hingga November. Harga kedelai memang fluktuatif,” tutur Gunaryo.

Gunaryo menambahkan, sebanyak 80 persen kedelai impor digunakan untuk industri pembuatan tempe. Sedangkan industri pembuatan tahu lebih banyak menggunakan kedelai lokal. “Mudah-mudahan petani mampu mendukung kebutuhan kedelai sehingga harga bisa murah,” katanya.

Selama ini produksi lokal tak mampu menutupi kebutuhan nasional. Ketua Umum Kelompok Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir menyebutkan, produktivitas kedelai dalam negeri hanya 1,2-1,5 ton per hektare. Angka itu jauh lebih rendah ketimbang negara lain yang mencapai 3-3,5 ton per hektare.

Dengan produktivitas rendah, dalam satu tahun rata-rata petani hanya mampu memproduksi 270 ribu ton, kurang dari seperlima kebutuhan 1,5 juta ton per tahun. Menurut Winarno, tak ada daerah yang spesifik menjadi sentra produksi. "Hanya ada di Garut, Tasikmalaya, dan pantai utara Pulau Jawa," katanya.

ROSALINA