foto

Seorang pria menuang kedelai di tempat pembuatan tempe di Neglasari, Tangerang, Banten, (20/1). ANTARA/Ismar Patrizki

Harga Kedelai Naik, Pengusaha Tempe Kurangi Ukuran  

TEMPO Interaktif, MADIUN - Akibat harga kedelai yang naik dalam sepekan terakhir, pengusaha tempe di Kota Madiun, Jawa Timur, kelimpungan.

Mereka terpaksa mengurangi takaran pemakaian kedelai dan mengurangi ukuran kemasan dalam cetakan tempenya, seperti yang dilakukan usaha pembuatan tempe milik Edi Sunyoto di Kelurahan Kelun, Kecamatan Kartoharjo.

“Terpaksa kami mengurangi takaran kedelai untuk tempe. Sedangkan harganya masih tetap. Ini untuk menyiasati kenaikan harga kedelai,” kata Edi, Senin (14/2).

Menurutnya harga kedelai kualitas sedang saat ini mencapai Rp 5.400 hingga Rp 5.600 per kilogram sedangkan kedelai kualitas bagus mencapai Rp 6.400 per kilogram. “Padahal sebelumnya hanya Rp 3.000 sampai Rp 4.000 per kilogram,” ujarnya.

Edi mengakui dari hari ke hari terpaksa mengurangi ukuran tempenya. “Awalnya hanya kami kurangi sekitar 1 centimeter, sekarang sudah dikurangi sampai 5 centimeter. Harganya tetap karena kalau harganya dinaikkan akan dikomplain pembeli,” tuturnya.

Dalam sehari, usaha tempenya menghabiskan sekitar 2 kwintal kedelai. Mahalnya harga kedelain mempengaruhi omset usaha pembuatan tempenya. “Turun sekitar 30-40 persen. Awalnya sekitar Rp 2,5 juta, sekarang turun jadi Rp 1,8 juta hingga Rp 1,9 juta per hari,” paparnya.

Selain sudah ada pelanggan atau pengepul yang memesan tempe buatannya, Edi juga langsung mensuplai ke pasar-pasar.

Hal yang sama diakui Supani, pengusaha tempe di Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. “Saya terpaksa mengurangii ukuran bungkusan tempe sejak harga kedelai naik. Sebab kalau harganya dinaikkan takutnya malah tidak laku,” ucapnya.

Dampak kenaikan harga kedelai juga dirasakan Suwarni, pembuat susu kedelai di Mejayan. Ia terpaksa mengurangi produksi susu kedelainya. Namun Suwarni tidak berani menaikkan harga. “Saya tetap menjual Rp 1.000 per bungkus. Kalau harganya dinaikan malah tidak ada yang mau beli,” kata Suwarni penjual susu kedelai yang biasa mangkal di Pasar Caruban.

Para pengusaha pembuatan tempe dan susu kedelai ini berharap pemerintah melakukan langkah untuk menstabilkan harga kedelai. Mereka takut usahanya akan gulung tikar. ISHOMUDDIN.