foto

TEMPO/Dinul Mubarok

Ratusan Pengusaha Tahu dan Tempe di Garut Kolaps  

TEMPO Interaktif, Garut - Ratusan pengusaha tahu dan tempe di Kabupaten Garut, Jawa Barat, kolaps menyusul terus melambungnya harga kedelai yang mencapai Rp 7 ribu per kilogram. Sebelumnya harga kedelai di Garut hanya Rp 5 ribu per kilogram.

"Saat ini usaha sangat berat, ngoleab (tidak menentu)," ujar salah seorang pengusaha, Ajan, 61 tahun, warga Desa Panyidangan, Kecamatan Pakenjeng, kepada Tempo, Senin (14/2).

Menurut dia, biaya produksi pembuatan tahu dan tempe sangat tinggi sementara harga penjualan tidak mengalami kenaikan. Dia mengaku hanya mendapatkan keuntungan sebesar Rp 10 ribu dari produksi 12 kilogram kedelai.

Karena itu, agar produksinya tetap berjalan, perajin tahu dan tempe terpaksa memperkecil ukuran. "Kalau tidak disiasati seperti itu, bisa-bisa usaha saya bangkrut seperti perajin yang lain," ujarnya.

Kepala Bidang Pengelola Perdagangan Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Kopti) Kabupaten Garut, Ahmad Yani, menyatakan saat ini banyak di antara perajin yang mengalami kolaps.

Yani mengakui kenaikan harga kedelai ini mengakibatkan jumlah perajin di wilayahnya terus berkurang. Sebelumnya jumlah perajin yang tercatat sebanyak 600, namun karena kenaikan harga kedelai yang pernah terjadi sebelumnya, mengakibatkan 300 perajin bangkrut. Sedangkan sisanya yang masih aktif saat ini dalam kondisi mengkhawatirkan.

Karena itu, Yani berharap pemerintah dapat melakukan intervensi terhadap harga kedelai ini. Bila tidak, perajin tahu dan tempe di Garut dipastikan tidak akan beroperasi lagi. "Pemerintah harus cepat bergerak, terutama dalam harga. Jangan sampai harga kedelai dikuasai oleh distributor," ujarnya.

SIGIT ZULMUNIR