Komunikasi Lintas Agama Diawali di Markas Kodim Bojonegoro  

TEMPO Interaktif, BOJONEGORO - Forum komunikasi lintas agama di Kabupaten Bojonegoro, Senin (14/2), mulai direalisir. Mengawali forum komunikasi, Komando Distrik Milter (Kodim) Bojonegoro menjadi tuan rumah.

Pertemuan berlangsung di Aula Jenderal Ahmad Yani Markas Kodim. Sekitar 150 peserta memadati aula. Mereka berasal dari berbagai agama, yakni Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha. Juga hadir sejumlah organisasi massa keagamaan, Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bojonegoro.

Kepala Kepolisian Resor Bojonegoro Ajun Komisaris Besar Polisi Widodo menjadi salah seorang pembicara. Dia didampingi Komandan Kodim Letnan Kolonel Taufik Risnendar.

Widodo menjelaskan, polisi mengendus adanya potensi kerusuhan berbau SARA (Suku Agama Ras dan Antar-golongan) yang ingin dihidupkan oleh kelompok tertentu.

Masalah-masalah sensitif, seperti keberadaan tempat ibadah agama tertentu, bahkan kasus tanah, dijadikan pemicu kerusuhan. “Potensi konflik karena masalah-masalah tersebut ingin dihidupkan dengan mengotak-atik masalah ijin tempat ibadah,“ katanya.

Widodo juga mengungkapkan, dalam sepekan terakhir mendapatkan surat dengan alamat pengirim yang tidak jelas. Isinya cenderung memunculkan kasus SARA. Namun, setelah dilakukan pengecekan oleh pihak intelejen, ternyata tidak ada tanda-tanda akan terjadi kerusuhan.

Masyarakat Bojonegoro, kata Widodo, tidak punya bakat atau bahkan tidak memendam benih untuk melakukan kerusuhan. Bahkan, sejumlah kasus yang berbau SARA bisa diselesaikan dengan baik. ”Namun kita harus tetap mewaspadai adanya orang-orang atau kelompok tertentu yang ingin menciptakan momentum atau sejarah di Bojonegoro dengan menggerakkan kerusuhan,” ujarnya.

Widodo meminta masyarakat terus menjaga perdamaian dan kerukunan antar umat beragama. Dengan demikian, sekecil apapun potensi konflik berbau SARA bisa ditekan seminimal mungkin.

Haryono, 64 tahun, salah seorang peserta dalam forum kominikasi meminta Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama aparat keamanan mengintensifkan pengamanan di tingkat paling rendah, yakni Rukun Tetangga dan Rukun Warga.

”Tokoh-tokoh lintas agama di tingkat Rukun Tetangga dan Rukun Warga dilibatkan untuk saling menjaga perdamaian dan kerukunan, sehingga setiap kali persoalan muncul bisa diketahui dengan cepat,” ucap Haryono.

Bupati Bojonegoro Suyoto yang juga hadir dalam acara tersebut menyampaikan ucapan terima kasih kepada aparat keamanan, termasuk kepolisian yang dengan cepat melakukan antisipasi, sehingga aksi kekerasan yang terjadi di Pandeglang, Banten, maupun di Temanggung, Jawa Tengah, tidak merembet ke Bojonegoro.

”Kasus di Pandeglang maupun Temanggung patut dijadikan catatan penting agar tidak terjadi di Bojonegoro,” tutur Suyoto yang juga penasehat FKUB Bojonegoro.

Suyoto memberikan apresiasi terhadap acara bakti sosial yang diselenggarakan FKUB di Kecamatan Sekar. Selain membagi sembako, juga membantu pembangunan saluran air di kawasan pinggiran di kecamatan tersebut. “Yang muncul dari acara tersebut adalah pesan perdamaian,” paparnya.

Adapun acara forum komunikasi lintas agama akan diselenggarakan secara rutin. Polres Bojonegoro akan menjadi tuan rumah pada pertemuan kedua meskipun belum ditentukan waktunya. SUJATMIKO.