Darmin Nasution. TEMPO/Imam Sukamto
Topik
Darmin Yakin Kenaikan BI Rate Tidak Pengaruhi Bunga Kredit
TEMPO Interaktif, Jakarta -Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menyatakan keputusan menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 0,25 persen menjadi 6,75 persen tidak didasarkan tekanan dari analis asing maupun nasional.
“Tekanan yang saya maksud adalah tekanan di ekonomi riil, bukan tekanan suara-suara para analis. Kalau itu silakan saja mereka bersuara,” kata Darmin dalam rapat kerja dengan Komisi Keuangan dan Perbankan DPR RI, Senin (14/2).
Keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate dikritik sejumlah anggota Komisi. Wakil Ketua Komisi Keuangan Harry Azhar Azis mempertanyakan keputusan menaikkan BI Rate. “Ini hanya akan menguntungkan para pemilik modal dan yang punya uang banyak, sedangkan untuk UMKM ini memberatkan,” katanya.
Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Arif Budimanta mengatakan kenaikan BI Rate ini secara otomatis akan menaikkan suku bunga pinjaman. “Dengan matematika sederhana saja, ini akan membuat biaya produksi naik, dan harga di tingkat konsumen akan naik, ya akhirnya inflasi ikut naik,” katanya.
Namun Darmin menyatakan berdasarkan penilaian Rapat Dewan Gubernur, kenaikan BI Rate diperkirakan tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap suku bunga kredit dan pertumbuhan kredit. “Ini sudah melalui pembahasan yang mendalam di Rapat Dewan Gubernur,” katanya.
Sebenarnya, BI tidak ingin menaikkan BI Rate yang sudah dipertahankan 6,5 persen selama 18 bulan. Tapi, sepekan kemudian setelah RDG Bank Indonesia memutuskan tidak menaikkan BI Rate, rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Korea menaikkan suku bunga acuannya 25 basis poin.
Bahkan dua hari setelah BI Rate naik menjadi 6,75 persen, Bank Sentral Cina menaikkan suku bunga acuannya, meski sedikit lebih rendah, menjadi 6,06 persen. Selama 2010 Cina sudah dua kali menaikkan referensi suku bunganya.
Darmin membandingkan dengan India yang sudah tujuh kali menaikkan policy rate, sedangkan Korea Selatan selama 2010 sudah menaikkan sebanyak tiga kali. “Indonesia baru menaikkan satu kali, bahkan kami secara serius akan menggiring tingkat bunga yang tinggi saat ini turun,” katanya.
IQBAL MUHTAROM





