Kacang kedelai. TEMPO/Panca Syurkani
Topik
Bank Dunia Ingatkan Kenaikan Harga Makanan Berbahaya
TEMPO Interaktif, Wahington - Presiden Bank Dunia Robert Zoellick memperingatkan harga pangan telah mencapai tingkat berbahaya. Kenaikan harga bahan makanan dikhawatirkan dapat menghambat transisi politik di Mesir, Tunisia, negara-negara Timur Tengah, dan Asia Tengah.
Dalam hitungan Bank Dunia, harga bahan makanan di seluruh dunia rata-rata melambung hingga 29 persen dibanding bulan sebelumnya. Harga makanan hanya 3 persen di bawah rekor sebelumnya pada 2008. Komoditas yang mengalami kenaikan harga tertinggi antara lain jagung, gandum, dan minyak.
Dalam keterangannya kepada wartawan di Washington, Amerika Serikat, Selasa lalu, Zoellick menyatakan melonjaknya harga membuat 44 juta orang terperosok dalam kemiskinan. Ia mendesak para pemimpin negara-negara yang tergabung dalam G-20 agar memasukkan krisis pangan dalam prioritas mereka.
Sejumlah menteri keuangan negara-negara G-20 akan bertemu pada Jumat dan Sabtu pekan ini di Prancis. "Harga pangan global berada pada tingkat berbahaya. Ini membuat orang miskin di seluruh dunia semakin menderita," kata Zoellick.
Seorang pejabat keuangan Amerika di Washington mengakui, melonjaknya harga pangan dan tingginya inflasi akan menjadi masalah utama bagi negara-negara berkembang. Selain Timur Tengah, Zoellick menyatakan harga pangan dapat mempengaruhi stabilitas di Asia Tengah.
Ia mengaku khawatir beberapa negara akan bereaksi terhadap inflasi pangan dengan melarang ekspor atau menerapkan kontrol harga. Tindakan itu hanya akan memperburuk masalah.
Bank Dunia mencatat, kenaikan indeks harga makanan sebesar 15 persen antara Oktober dan Januari. Kenaikan ini didorong oleh perubahan perdagangan untuk gandum, jagung, dan kedelai.
Harga perdagangan berjangka untuk jagung naik lebih dari dua kali lipat sejak musim panas ini. Kenaikan harga dari US$ 3,50 menjadi US$ 7 per gantang (setara dengan 2,8 kilogram). Penyebabnya permintaan lebih tinggi dari negara-negara berkembang dan industri biofuel.
"Peningkatan harga sebagian karena pedagang dunia gelisah melihat tingkat cadangan yang rendah untuk jagung, gandum, dan kedelai," kata Chris Nagel, seorang analis dari Northstar Commodity di Minneapolis. Melonjaknya permintaan dari pelanggan di Cina dan negara lain ikut membuat pasokan komoditas berkurang.
Departemen Pertanian Amerika Serikat pekan lalu memperkirakan petani jagung di negara itu hanya akan memiliki 675 juta gantang jagung pada akhir Agustus, sebelum panen dimulai tahun depan. "Itu hanya pasokan untuk 18 hari," kata Nagel.
Tipisnya cadangan bahan pangan akan mengerek harga penawaran. Hal itu akan terjadi pada kondisi cuaca apa pun, yang mengurangi jumlah tanaman tahun depan.
Bank Dunia juga menyatakan harga lemak dan minyak dunia naik 22 persen antara Oktober dan Januari. Sementara itu, harga gandum dan gula masing-masing naik 20 persen pada periode yang sama.
Pada Juni dan Desember, harga gandum naik 54 persen di Kirgistan, sementara di Bangladesh harga meningkat hingga 45 persen. Adapun di Pakistan kenaikan harga mencapai 16 persen.
BBC | AP | EKA UTAMI APRILIA | DEWI RINA





