Pesawat F-16. Dok. TEMPO/Puspa Perwitasari
Senin, 21 Februari 2011 | 18:40 WIB
Wawan Ragu Hilangnya Laptop di Korea Libatkan Intelijen
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pengamat intelijen Wawan Purwanto meragukan hilangnya data dan laptop delegasi Indonesia saat berada di Korea Selatan merupakan ulah intelijen. "Maksud-maksud mencuri kok nggak mungkin ya, apalagi upaya pengkhianatan," kata Wawan saat dihubungi Tempo, Senin (21/2)
Pada pertemuan delegasi Indonesia dan Korea Selatan 14-17 Februari lalu, laptop salah seorang anggota delagasi sempat hilang dari kamarnya di Lotte Hotel. Media massa di Korea Selatan menyebut ada keterlibatan intelijen dalam hilangnya laptop tersebut.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, yang memimpin delegasi ke Korea, mengatakan, laptop yang hilang itu akibat orang salah masuk kamar. “Tidak benar ada pencurian. Lagi pula, itu bukan data rahasia melainkan pemaparan MS Hidayat dalam pertemuan di Korsel," kata dia.
Wawan mengamini pernyataan Hatta. Untuk dokumen berkelas rahasia dan sangat rahasia, ia menambahkan, tak mungkin dibawa staf biasa. "Mesti ada pengamanan khusus untuk dua kategori itu," ujarnya. Dokumen-dokumen yang dibawa staf-staf anggota delegasi, biasanya hanya berstatus biasa dan terbatas.
Lagipula, ia melanjutkan, hubungan Korea Selatan dan Indonesia sangat dekat. "Indonesia itu negara kedua setelah Amerika Serikat bagi Korea," papar Wawan.
Pertemuan dua negara, kata Wawan, diakuinya memang membahas kerjasama ekonomi, termasuk pertahanan dan militer. Tapi pembicaraan tersebut merupakan tahapan lanjutan, bukan negosiasi awal.
Indonesia dan Korea Selatan sudah membuat perjanjian kerjasama pembuatan 250 pesawat jet tempur oleh PT Dirgantara Indonesia. "Perjanjian itu sudah diteken, dan dipaparkan ke publik," ujar Wawan. Artinya, tak ada unsur data militer atau intelijen yang sangat penting dalam pertemuan itu.
Dianing Sari





