AP/Ahn Young-joon
Pemerintah Tak Gentar Modal Asing Kabur dari Indonesia
TEMPO Interaktif, Jakarta - Porsi investor asing yang memegang surat berharga negara sudah mencapai 30,45 persen atau sekitar Rp 198 triliun lebih. Dengan posisi kepemilikan yang hampir mendekati Rp 200 triliun itu, pemerintah tak khawatir bila terjadi volatilitas di pasar, baik di saham maupun surat berharga, karena sifatnya hanya sementara.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto mengatakan pemerintah sudah mengantisipasi masuknya modal asing yang besar. "Inflows masih besar, terutama di SBN," kata di Jakarta, Senin (21/2). Rahmat mengungkapkan seminggu yang lalu dalam dua hari ada penurunan sebesar Rp 1 triliun di SBN, tapi kemudian balik lagi.
"Itu sifatnya sementara karena pemain pasar sedang reallignment pada portofolio investasi mereka sehingga bisa seimbang," katanya. Sejauh ini nilai tukar rupiah cenderung stabil bahkan menguat yang menandakan tidak terjadi arus modal keluar. "Kalau rupiah anjlok signifikan, itu terjadi pullout, tapi selama ini nilai rupiah stabil dan cenderung menguat."
Kalapun terjadi volatilitas, Rahmat mengatakan itu masih dalam tahap wajar, karena memang adanya ekspektasi inflasi yang terus meningkat. "Investor masih mengira-ngira berapa harga wajar saham atau SBN, jadi masih terjadi volatilitas," katanya.
Yang jelas, pasar sudah bisa menerima bahwa yield harus seiring dengan kenaikan ekspektasi inflasi. Yield tidak akan turun signifikan dari posisi sekarang. Menurut Rahmat, tidak hanya SBN, tapi semua aset keuangan mengalami penyesuaian harga atau imbal hasil karena kenaikan ekspektasi inflasi. "Itu wajar," katanya.
IQBAL MUHTAROM





