TEMPO/Arif Fadillah
Topik
Siswa Desak Kepala SMA Negeri 3 Takalar Dicopot
TEMPO Interaktif, Takalar - Siswa SMA Negeri 3 Takalar, Sulawesi Selatan, menolak masuk kelas lantaran kepala sekolahnya diduga menyelewengkan uang iuran murid. Dana yang diselewengkan itu meliputi uang Osis, uang Pramuka dan iuran komite sekolah.
Menurut salah seorang pengurus Osis, Abdul Hayul Kayum, aksi ini telah berlangsung selama dua pekan. "Kami mau belajar lagi kalau kepala sekolah dicopot dan diproses hukum," ujar Abdul, Rabu (23/2). Dia dan kawan-kawannya tetap datang ke sekolah namun tidak masuk kelas.
Abdul mengungkapkan, sebagian murid ada yang memilih tidak masuk sama sekali. Untuk menambal ketertinggalan belajarnya, Abdul yang kini duduk di kelas III mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. "Kami mengikuti try out di luar," ujar Abdul.
Dugaan kepala sekolah menyelewengkan uang iuran berlangsung sejak tiga tahun silam, jumlahnya mencapai Rp 100 juta. Kasus ini sudah ditangani Dinas Pendidikan dan Kepolisian setempat. Menurut Kepala Bidang Pendidikan Pemuda dan Olahraga pada Dinas Pendidikan Takalar Darwis, sudah berusaha membujuk sejumlah siswa yang memboikot belajar. "Kami berharap siswa tidak mengorbankan pelajarannya, khususnya siswa kelas III yang sebentar lagi ujian nasional," kata Darwis.
Darwis mengakui sudah dua pekan lebih beberapa murid tidak mau belajar karena kecewa dengan Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Takalar Amir. Dia mengatakan, guru-guru mestinya mampu mengatasi masalah tersebut dengan pendekatan yang pas. "Jangan diam saja," katanya.
Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Takalar Komisaris Syahruddin Syah mengatakan, dalam kasus dugaan penyelewengan dana polisi memeriksa tujuh orang. Mereka antara lain Amir sendiri kemudian wakilnya dan anggota komite sekolah. "Kami terus mencari data pendukung lainnya," kata Syahruddin.
Amir ketika dikonfirmasi tidak berada di tempat. Dihubungi melalui telepon selulernya tidak aktif. Menurut Syahruddin, ketika diperiksa Amir membantah menyelewengkan dana sekolah. Iuran itu digunakan untuk keperluan kegiatan siswa. "Dia bilang uang tersebut juga untuk membiayai kegiatan sekolah," kata Syahruddin menirukan ucapan Amir.
SAHRUL





