Letusan Freatik Gunung Lokon Hitamkan Langit Manado

Letusan Freatik Gunung Lokon Hitamkan Langit Manado

Pemukiman warga di bawah kaki gunung Lokon, Tomohon, Sulawesi Utara. TEMPO/Fahmi Ali

TEMPO Interaktif, Manado - Gunung Lokon yang terletak di Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon, Sulawesi Utara yang sejak tahun 2007 telah dinyatakan berstatus waspada mulai menampakkan aktivitasnya.

Kemarin, gunung ini memuntahkan abu vulkanik setinggi 400 meter dari kawah Tompaluan, sebutah kawan Lokon. Akibatnya masyarakat yang ada di Kota Tomohon yang dikenal dengan sebutan Kota Bunga ini pun ‘mandi’ abu yang berasal dari letusan freatik gunung Lokon tersebut.

Tak hanya dirasakan di Kota Tomohon, daerah sekitar Tomohon seperti Kota Manado dan Kabupaten Minahasa ikut merasakan dampak letusan abu tersebut. Hingga Rabu (23/2) langit daerah Manado dan Minahasa masih diselimuti awan hitam tanpa ada curah hujan yang terjadi.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu Farid Ruskanda Bina menjelaskan jika letusan yang terjadi di Gunung Lokon sesuai dengan alat pendeteksi seismograf hanya bersifat freatik atau terjadi hanya letusan permukaan. “Untuk letusan Freatik itu tidak bisa terdeteksi karena kejadiannya selalu tiba-tiba. Letusan ini biasanya terjadi karena suhu kawah sudah mencapai titik jenuh,” ujar Farid. “Dan letusan ini sebenarnya sudah biasa terjadi pada gunung dengan status waspada”.

Farid mengungkapkan, letusan yang terjadi tersebut tidak menaikkan status gunung Lokon menjadi waspada karena berdasarkan pengamatan gempa yang terjadi di gunung tersebut masih pada batas kewajaran yakni 3 sampai 5 kali dalam sehari.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Tomohon Royke Roeroe meminta kepada masyarakat untuk tetap waspada dan melakukan pengawasan. Jika perlu agar menghindari lokasi lereng gunung.

Roeroe mengungkapkan, walaupun letusan hanya bersifat freatik atau letusan permukaan, tapi ada kemungkinan letusan magmatik akan menyusul sehingga harus diantisipasi.
“Disarankan, aktivitas di kawasan kaki gunung khususnya di radius 1 kilometer dari kawah Tompaluan untuk dihentikan sementara. Ini untuk mencegah hal-hal yang
tidak kita inginkan bersama,” ujar Roeroe.

Roeroe mengaku, karena aktivitas gunung itu sejak pertengahan tahun 2010, pihaknya sudah menutup jalur pendakian ke gunung yang mempunyai ketinggian 1.689 meter dari permukaan laut ini.

Isa Anshar Jusuf

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X