Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh. TEMPO/Yosep Arkian
Topik
M. Nuh: Mahasiswa Miskin Terus Bertambah
TEMPO Interaktif, Bandung - Menteri Pendidikan Nasional M. Nuh mengatakan, sejak 2003 jumlah mahasiswa miskin di Indonesia terus bertambah. Dari ratusan ribu mahasiswa miskin, pemerintah saat ini baru bisa memberi beasiswa kuliah gratis untuk 20 ribu orang.
Berdasarkan data di Kementerian Pendidikan Nasional, kata Nuh, jumlah mahasiswa miskin pada 2003 sebanyak 0,98 persen. Pada 2008, jumlahnya melonjak menjadi 3 persen. Setahun kemudian tercatat 6 persen. "Setelah kita pelajari status sosial mahasiswa pada 2009 itu, 94 persen dari kelas menengah ke atas," ujarnya di kampus Universitas Padjadjaran, Bandung, Senin (28/2).
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso yang dihubungi terpisah mengatakan, pada 2009 total ada 4,6 juta mahasiswa di perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. "Setiap tahun jumlah mahasiswa terus bertambah," katanya. Jadi pada 2009, tercatat ada 276 ribu mahasiswa miskin di Indonesia dan saat ini kemungkinan terus bertambah.
Nuh mengatakan, pemerintah sejak 2010 lalu memberikan beasiswa Bidik Misi bagi 20 ribu mahasiswa miskin. Namun itu baru untuk mahasiswa di kampus negeri saja. Tahun ini, bantuan pemerintah agar mahasiswa bisa kuliah gratis hingga meraih gelar sarjana itu dialokasikan bagi 20 ribu orang mahasiswa angkatan baru. "Kami ingin dinaikkan jadi 30 ribu mahasiswa," katanya usai berdialog dengan 150 mahasiswa yang mewakili 500 penerima beasiswa Bidik Misi di Universitas Padjadjaran.
Alokasi anggaran berupa uang keperluan hidup sehari-hari sebesar Rp 500 ribu per mahasiswa mencapai Rp 200 miliar tahun lalu. Tahun ini diperkirakan bertambah menjadi Rp 300-400 miliar. Anggaran itu belum termasuk biaya kuliah yang wajib dibayar pemerintah sesuai ketetapan kampus-kampus perguruan tinggi negeri bagi mahasiswa miskin.
Menurut Nuh, mahasiswa miskin tersebut harus diselamatkan. Kampus tidak saja mengukur kemampuan akademik mahasiswa miskin untuk diterima, tapi juga potensi akademiknya. Sebaliknya, mahasiswa kaya harus memberikan kontribusinya. "Kalau dia orang mampu dan tidak dalam kondisi dipaksa (membayar), tidak apa-apa," katanya.
Terkait soal biaya masuk kuliah yang mahal, seperti patokan Institut Teknologi Bandung sebesar Rp 55 juta, Nuh mengaku belum tahu. Pemerintah juga tidak membuat batas besaran uang kuliah termahal. "Batasnya itu kewajaran," ujarnya.
Anwar Siswadi





