foto

IES LAMP lampu hemat energi. Dok.Institut Teknologi Sepuluh November

Anggaran untuk Riset Diharapkan Naik

TEMPO Interaktif, Bandung - Deputi Menteri Bidang Jaringan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Kementerian Riset dan Teknologi M. Syamsa Ardisasmita mengatakan, dengan adanya kebijakan pemerintah untuk Percepatan Pertumbuhan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (P3EI) bisa mendongkrak anggaran untuk riset dan penelitian. ”Mudah-mudahan dengan adanya inisiatif ini anggaran riset bisa diakomodasi,” katanya di Bandung, Selasa (1/3). 


Kebijakan P3EI diperkenalkan pemerintah dalam retreat belum lama ini di Istana Bogor. Dalam kebijakan itu dipilih 3 fokus utamanya, yakni pengembangan infrastruktur, kawasan ekonomi khusus, dan terakhir kemampuan Iptek nasional. 

Syamsa mengatakan, lewat inisiatif itu, pengetahuan dan teknologi dianggap sebagai bagian penting untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing produk dalam negeri. ”Kalau tidak ada Iptek, kita tidak bisa meningkatkan produktivitas dan daya saing produk Indonesia, terutama untuk (mendongkrak) nilai tambah,” katanya. 

Sudah 2 tahun terakhir ini anggaran untuk riset dan penelitian di Kementerian Riset dan Teknologi tidak berubah besarannya. Syamsa memaparkan, anggaran untuk penelitian tahun ini dan tahun lalu tidak berubah, yakni Rp 325 miiliar. 

Dari dana itu, Rp 100 miliar untuk program insentif peneliti yang bisa diakses oleh peneliti lewat usulan penelitian untuk mendapatkan dana penelitian maksimal Rp 500 juta setahun. Dan sisanya, Rp 225 milaar untuk program insentif penelitian dan pengembangan jasa di lembaga penelitian milik pemerintah dan internal kementerian. 

Menurut Syamsa, hasil penelitian Indonesia selama ini masuk dalam 20 besar penelitian di dunia. “Cuma yang jadi masalah, bagaimana mengkomersialkannya,” katanya. 

Tahun depan Kementerian Riset dan Teknologi sedang menyiapkan Konferensi Triple Helix yang selama ini digelar di Eropa dan Amerika, untuk digelar pertama kali di Indonesia.
 
Syamsa mengantar, Ketua Komite Internasional yang menggelar konferensi itu menemui Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan untuk membahas rencana itu. 

Syamsa mengatakan, tahun 2012, kementerian mengajak panitia konferensi itu untuk menggelar Konferensi Internasional yang mempertemukan akademisi, pelaku usaha, dan unsur pemerintah dari berbagai negara itu di Bandung. ”Biasanya dilakukan di Eropa dan Amerika, sekarang kita minta Bandung sebagai tuan rumah Triple Helix Conference,” katanya. 

Dia beralasan, Bandung dipilih sebagai tuan rumah berkaitan dengan keberadaan beragam perguruan tinggi, industri --termasuk industri kreatifnya. ”Ini baru pertama kalinya di Indonesia,” kata Syamsa. 

Tahun ini konferensi akan digelar Juli nanti di Stanford University yang mengambil fokus bahasan soal Silicon Valley. 

Dia berharap, lewat konferensi itu, bisa dicari solusi bagaimana membuat produk hasil penelitian anak bangsa bisa dikomersialisasi. ”Kelemahan kita, hasil penemuan, hasil invensi kita, hanya berhenti di penelitian,” katanya. 

Chair International Committtee Triple Helix Conference, Prof. Tariq S. Durrani dari University of Strathclyde Ingris, mengatakan, konferensi ini digelar untuk mencari ide baru dari pengalaman interaksi antara industri, pemerintah, dan akademisi dalam membuat inovasi untuk pembangunan berkelanjutan. 

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, pihaknya ingin bersama-sama membangun model link and match antara pengusaha, peneliti, dan pemerintah lewat konferensi itu. “Tiga kutub ini perlu menyatu,” katanya. 

Ahmad Fikri