Bus Transjakarta (busway) saat mengisi bahan bakar gas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) Auri, Pancoran, Jakarta. [TEMPO/ Dwianto Wibowo]
Pengembangan Transportasi Gas Butuh Rp 88 Triliun
TEMPO Interaktif, Jakarta - Direktur Energi dan Sumber Daya Alam Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Monti Giriana memperkirakan pemerintah membutuhkan dana minimal US$ 10 miliar atau Rp 88 triliun untuk mengembangkan transportasi dengan bahan bakar gas di Indonesia.
Dana tersebut untuk seluruh investasi, mencakup pipa, penampungan gas, stasiun pengisan bahan bakar gas, hingga insentif untuk peserta konversi (converter) bila pemerintah jadi mengalihkan separuh konsumsi bensin dari alat transportasi ke gas.
Data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas menyebutkan, realisasi penggunaan bahan bakar minyak bersubsidi tahun lalu sebanyak 53 persennya diserap sektor transportasi darat. Wilayah yang paling banyak menggunakan BBM bersubsidi sebanyak 41 persen berada di Jawa dan Bali.
Jika separuh konsumsi BBM dialihkan ke gas, akan dibutuhkan 1.500 juta kaki kubik gas per hari walhasil alokasi gas domestik harus ditingkatkan. Padahal tahun ini pemerintah baru menjatah 56,7 persen atau sekitar 4.366 miliar British thermal unit per hari dari total 7.600 BBTUD gas yang diproduksi di dalam negeri.
Pemerintah menyadari infrastruktur untuk mengembangkan transportasi berbahan gas saat ini belum siap, terutama untuk menyediakan pasokan dan menampung gas tersebut. Infrastruktur diperkirakan terbangun paling cepat pada 2012 seiring dengan rampungnya pembangunan unit penampungan dan regasifikasi terapung di Teluk Jakarta.
Lebih jauh Bappenas memastikan terus mengkaji opsi apakah pengembangan sektor gas akan ditekankan menjadi produk liquefied gas for vehicles (LGV) atau compress natural gas (CNG). "Tapi kemungkinan CNG karena gasnya lebih mudah didapatkan," ujar Monti.
Pemerintah tengah gencar mendorong masyarakat mulai beralih menggunakan gas sebagai bahan bakar transportasi. Tujuannya menghemat konsumsi bahan bakar minyak, yang harganya kian tinggi.
Penggunaan gas juga dianjurkan karena dinilai jauh lebih murah ketimbang penggunaan BBM jenis Pertamax andai program pembatasan Premium jadi diterapkan. Namun, permasalahannya, hingga saat ini baru terdapat 19 pom bensin yang menyediakan LGV, itu pun berada di sekitar Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi.
GUSTIDHA BUDIARTIE





