Imajinasi Gerak di Jagongan Wagen

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - p { margin-bottom: 0.08in; }Dua pria tampak terhuyung-huyung, bergerak tanpa arah, sambil terus menempelkan dua kepala mereka. Gerakannya kadang erotis, mirip sepasang insan yang tengah bersanggama.


Itulah sepenggal adegan dalam Jagongan Wagen bertajuk Imajinari yang digelar di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Dusun Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, Senin (28/2) malam lalu. Pertunjukan yang dilakonkan lima anak muda dari berbagai latar budaya itu bagaimana sebuah tarian merupakan hasil interpretasi pribadi, sebuah imajinasi yang bebas dari alur narasi apapun.


“Kami memang tidak membawakan cerita apa-apa. Hanya meniru dari apa yang dilakukan teman kami, dan sebaliknya teman kita juga mencoba meniru kami. Dari saling meniru dan ditiru itulah tercipta tarian,” kata Anter Asmorotedjo, salah seorang penari asal Yogyakarta.


Menurut Anter, gerakan yang dibawakannya berasal dari kultur yang selama ini menjadi bagian hidupnya. Agak kalem dan sedikit hentakan. Sedangkan empat rekannya, yakni Ade Setiawan (Riau), Mega Lestari (Kalimantan Timur), Moko Istiyanto (Klaten, Jawa Tengah), dan Paranditya Wintarni (Yogyakarta), memiliki gerak yang membawa cirinya masing-masing.


“Dari perbedaan latar belakang kultur itu, kami saling mengimajinasi, yang dibawakan tiap orang. Kita ingin merasakan seperti apa rasanya diikuti seperti apa rasanya mengikuti. Tidak pernah bisa sama, tapi justru itu menariknya, bisa beda intepretasinya,” ujar Mega Lestari, penari asal Kalimantan Timur, menjelaskan.


Pertunjukan saling meniru gerak itupun dengan sendirinya menjadi panggung imajinasi tanpa batas yang tak hanya jadi milik penonton, tapi juga bagi para penarinya sendiri. Posisi atas apa yang diciptakan (karya) menjadi nomor dua. Para penari itu yang jadi karya utama panggung ini.


Dalam adegan-adagen yang dibawakan, penari tampil bergantian. Kadang sendiri, berdua, bertiga, hingga semua ikut menari. Seolah ada cerita yang dibawakan dalam tiap adegan, tapi tak eksplisit dinyatakan.


“Memang sengaja tak di-setting untuk cerita apa yang lalu disepakati dibawakan bersama. Biar bebas imajinasinya antara kami yang meniru. Kebebasan menafsir itu yang membuat tiap gerakan bisa luwes dan hidup,” kata penari Moko Istiyanto dari Klaten.


Penanggung jawab program Jagongan Wagen dari Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Besar Widodo, mengatakan persiapan pertunjukan itu hanya 14 hari. Pihaknya mengambil kelimanya secara acak. Yang penting bisa menari dan mencipta.


Menurut Besar, di tiga hari pertama pertemuan, mereka saling meniru apa yang dilakukan rekannya. Terus bergerak membayangkan yang ingin dilakukan agar direspon rekannya. “Tanpa iringan musik. Mereka baru dapat (iringan musik) satu hari sebelum tampil,” ujarnya. “Jadi gerakannya murni soal apa yang mereka bayangkan, tidak didominasi musik.”


Orisinalitas gerak yang tak lain ekspresi individual penari dalam Imajinari itu pun tampak sangat kuat. Tak seragam tapi sejajar. “Kesejajaran itu bukan mesti sama tinggi, sama rendah. Tapi ada pergerakan dinamis, ada turun-naik antara satu dan lainnya, to?” kata Besar.



PRIBADI WICAKSONO