Topik
Umat Hindu Arak Ogoh-ogoh Koruptor
TEMPO Interaktif, Bandar Lampung - Menjelang perayaan pergantian tahun baru Saka 1933, umat Hindu di Bandar Lampung menggelar pawai ogoh-ogoh, Jum’at (4/03). Salah satu ogoh-ogoh yang diarak berupa tikus raksasa yang melambangkan koruptor.
“Semua ogoh-ogoh yang diarak hari ini melambangkan kejahatan manusia yang harus dilenyapkan. Ada koruptor, anarkistis hingga perusak alam,” kata I Putu Suwarta Adnyana, ketua Parisada Hindu Dharma Kota Bandar Lampung, Jum’at (04/0).
Ogoh-ogoh tikus raksasa yang paling menjadi perhatian warga. Ogoh-ogoh berupa patung pria yang tengah menenteng sekantong uang, serta bersanding dengan patung perempuan seksi. Ogoh-ogoh ini untuk menunjukkan bahwa para koruptor, selain menilep uang rakyat, juga suka main perempuan. Ogoh-ogoh koruptor itu dbuat oleh umat Hindu dari Banjar Nengah Kecamatan Sukabumi, Bandar Lampung.
Festival ogoh-ogoh dalam rangka Nyepi itu, kata Putu, baru pertama kali digelar di Kota Bandar Lampung. Biasanya festival digelar di wilayah yang komunitas warga Bali-nya banyak, seperti di Seputihraman Lampung Tengah, Banjit Waykanan dan Lampung Timur. “Untuk itu kita baru menampilkan empat ogoh-ogoh yang kami datangkan dari empat penjuru,” katanya.
Empat ogoh-ogoh ini menggambarkan sosok koruptor, perusak lingkungan, tindakan anarkistis dan amarah itu diarak keliling Bundaran Tugu Adipura sebanyak tiga putaran. Hal itu, lanjut Putu, untuk menarik semua energi negatif yang menggelayuti kota agar masuk ke patung ogoh-ogoh. “Setelah masuk, kemudian dibakar di banjar masing-masing,” katanya.
Wali Kota Bandar Lampung, Herman HN, yang menyaksikan festival ogoh-ogoh tersebut meminta umat Hindu khususnya warga Bali di Bandar Lampung ikut membangun iklim pariwisata. Dia berjanji akan mendukung semua festival untuk kemajuan dunia wisata di Lampung. “Pasti akan kita dukung semua festival wisata seperti ini. Sangat menarik,” ujarnya.
Sebelum menggelar festival ogoh-ogoh, umat Hindu menggelar upacara Tawur Kesanga dan upacaa Mencaru. Sabtu besok, mereka akan melakukan tapa brata alias nyepi dengan menjauhi empat pantangan, yaitu tidak bebergian (amati lelungan), tidak bekerja (amati karya), tidak menikmati hiburan (amati lelulungan) dan tidak menyalakan api (amati geni).
Siang tadi, ratusan remaja Hindu se kota Mataram dan Lombok Barat juga menyelenggarakan pawai ogoh-ogoh yang diikuti oleh 144 buta kala yang merupakan kreasi warga setempat. Acara untuk menyambut hari Raya Nyepi ini ditonton puluhan ribu orang yang berdiri di sepanjang satu kilometer jalan utama Pejanggik dan berakhir di perempatan Cakranegara.
Acara pawai ogoh-ogoh ini juga untuk memperebutkan Piala Walikota Mataram. ‘’Kami ingin mengayomi warga. Agar tertib lancar dan sukses,’’ kata juru bicara Pemerintah Kota Mataram Cukup Wibowo.
Nurochman Arrazie | Supriyanto Khafid





