Umat Hindu bersembahyang di Jakarta. TEMPO/Tony Hartawan
Topik
Ratusan Umat Hindu Rayakan Nyepi di Pura Rawamangun
TEMPO Interaktif, Jakarta -Ratusan umat Hindu merayakan hari raya Nyepi di Pura Aditya Jaya Rawamangun, Jakarta Timur. Perayaan awal tahun baru Saka 1933 itu dihadiri warga Jakarta dan sekitarnya. Tapi, adapula di antara mereka yang berasal dari luar kota seperti Lampung. Dalam wasiatnya, Pedanda Brahmacarya Bhargawa Chaitanya berpesan kepada umat untuk menjalankan ibadah catur brata nyepi dan meresapi maknanya dengan baik.
Kewajiban itu meliputi larangan menyalakan api (Amati Gni), larangan bekerja (Amati Karya), larangan ke luar rumah (Ameti Lelungan) dan larangan menikmati kesenangan (Amati Lelangunan). Keempat cara ibadah itu, kata Brahmacarya, pada prinsipnya membentuk prilaku umat agar dapat mengevaluasi apa yang telah mereka lakukan demi menata masa depan yang lebih baik.
Pedanda juga berpesan agar umat Hindu mengendalikan hawa nafsu atas nilai-nilai kebendaan karena hasrat itu cenderung membawa kegelisahan dan rasa takut serta marah jika kehilangan. “Sebenarnya ini adalah hal yang wajar, yang menjadi soal adalah ketika sesorang mulai berfikir untuk menguasai. Inilah awal permusuhan dan konflik.”
Menurut Bharahmacarya, sumber konfilk itu bisa diatasi jika umat Hindu mau mengubahnya dari diri sendiri. “Yakni dengan menerapkan pola hidup yang sederhana.”
Di Pura Aditya Jaya, ratusan umat Hindu khusyuk bersembahyang. Tapi, ada pula di antara mereka yang memilih tidur-tiduran di Pendopo Pura.
Perayaan juga telah diawali dengan upacara melasti di Pura Segara Cilinding sehari sebelumnya. Begitu pun dengan pawai ogoh-ogoh yang digelar di pelataran Monas. Rencananya, Panitia Tawur Kesanga dan Nyepi tingkat DKI Jakarta juga akan menyiapkan prosesi Tawur Kesanga di pelataran Pura.
RIKY FERDIANTO





