foto

Pawai ogoh-ogoh dalam rangka peringatan hari raya Nyepi tahun Saka 1933 di Mataram lombok, Jumat (4/3). Pawai Ogoh-ogoh ini sebagai simbol pensucian diri dari roh-roh jahat sebelum melakukan ritual Nyepi bagi umat Hindu. TEMPO/Supriyantho Khafid

Umat Hindu di Mataram dan Lombok Barat Jalani Ritual Nyepi

TEMPO Interaktif, Mataram - Seratusan ribu jiwa umat Hindu se-Kota Mataram dan 80-an ribu di Kabupaten Lombok Barat mulai menjalani Sipeng (hening) dalam menyambut Hari Raya Nyepi (Tahun Baru Saka 1933).

Mereka melakukan Catur Brata Penyepian mulai pukul 6 pagi tadi selama 24 jam hingga Minggu (6/3) pagi. Gang-gang dan jalan di lingkungan komunitas warga suku Bali mulai dari Karang Medain di Kecamatan Mataram hingga Jeruk Manis di Karang Jangkong dan sekitarnya ditutup menggunakan batang bambu atau kayu, bahkan ogoh-ogoh, yang sehari kemarin dipakai untuk pawai.

Sehari ini mereka menjalani Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak melakukan pekerjaan mencari nafkah), Amati Lelungan (tidak bepergian), Amati Lelanguan (tidak mengumbar hawa nafsu).

"Inti semuanya adalah Mulat Sarira," kata Ketua Parisadha Hindu Dharma Nusa Tenggara Barat Gde Renjana. Mulat Sarira berarti pengendalian diri dalam arti introspeksi diri. Apa yang sudah, sedang dan apa yang akan dilakukan dalam membina hubungan antara Tuhan dengan manusia, manusia dengan manusia sekitarnya, manusia dengan lingkungannya.

Menurut Gde Renjana, dalam Sipeng atau hening tersebut, umat Hindu atau umat Sedharma sebaiknya melakukan arcana atau persembahyangan/japa dhyana (pemusatan pikiran dan batin). Kemudian melakukan upawasa (berpuasa) dan mona (mengendalikan perkataan).

SUPRIYANTHO KHAFID