indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Ribuan Orang Ikut Festival Jawa Tondano


TEMPO Interaktif, Gorontalo - Ribuan orang dari komunitas Jawa Tondano, berkumpul di Provinsi Gorontalo, Ahad (6/3). Mereka merupakan warga keturunan Kyai Modjo yang diasingkan Belanda ke Minahasa, Sulawesi Utara, pada tahun 1829 lampau.

Abdul Muin Sakali, Ketua Kerukunan Keluarga Jawa Tondano (KKJT) Provinsi Gorontalo mengungkapkan, komunitas Jawa Tondano yang berkumpul di Gorontalo tersebut berasal dari seluruh Sulawesi. Mereka mengikuti festival seni dan budaya Jawa Tondano yang ke VI, dan dipusatkan di Desa Kaliyoso, Kecamatan Bongomeme, Kabupaten Gorontalo.
“Acaranya sudah dimulai sejak kemarin, dan akan selesai tanggal 7 Maret besok,” ujar Muin.

Dalam festival tersebut, kata Muin, para komunitas Jawa Tondano mengikuti lomba tarian Hadra yang diikuti sebanyak 1700 orang peserta. Tarian hadra itu diikuti oleh anak-anak, remaja dan dewasa. “Tarian Hadra ini adalah salah satu kesenian tradisional Jawa Tondano,” ujar Muin.

Menurut dia, tujuan dibuatnya festival seni dan budaya Jawa Tondano itu untuk menghimpun komunitas Jawa Tondano yang tersebar di seluruh wilayah Sulawesi dan sudah menikah dengan warga yang berasal dari suku lainnya di Indonesia.

Di Gorontalo sendiri kata Muin, jumlah penduduk Jawa Tondano yang memiliki keturunan Kyai Modjo tidak terdata. Hanya saja untuk tingkat Kabupaten Gorontalo, jumlah warga keturunan Jawa Tondano berjumlah sekitar 4.500 jiwa.

Muhamad Wonopati, salah seorang tokoh masyarakat Jawa Tondano di Gorontalo menambahkan, masyarakat Jawa Tondano di Provinsi Gorontalo tersebar di empat tempat, yakni di desa Yosenegoro, Reksonegoro, Kaliyoso, dan desa Mulyonegoro. “Kami tidak mengerti bahasa Jawa. Tapi dalam sehari-hari bahasa yang kami gunakan adalah Jawa Tondano, yakni campuran antara Jawa dan Tondano,” ujarnya.

CHRISTOPEL PAINO

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X