Ephindo Ingin Jual Listrik Batu Bara ke PLN

Ephindo Ingin Jual Listrik Batu Bara ke PLN

TEMPO/Arnold Simanjutak

TEMPO Interaktif, Jakarta - PT Energi Pasir Hitam Indonesia (Ephindo) ingin menjual listrik yang dihasilkan dari coal-bed methan (CBM), gas yang berasal dari batu bara, kepada PT PLN (Persero). "Kita berharap 2011 ini bisa dijual," kata Chairman of the Board Ephindo Wahyudin Yudiana Ardiwinata di sela seminar AON Energy Risk Conference" di Jakarta, Kamis (10/3).

Wahyudin, yang juga penasehat Indonesian Petroleum Association (IPA), mengatakan saat ini salah satu sumur CBM Ephindo di Sangata, Kalimantan Timur, sedang melakukan pengeboran dan sudah mencapai kedalaman yang diinginkan. Namun, volume dan nilai gas yang dihasilkan belum diketahui pasti, tapi diharapkan mencapai triliunan standar kubik kaki.

Hasil dari pengeboran itu kemungkinan dapat dilihat dalam 4-5 bulan mendatang. Proses pengeboran dilanjutkan dengan proses menghilangkan air untuk mengambil gas. Ephindo menggaet General Electric untuk mengkonversi gas yang dihasilkan menjadi listrik. Kerja sama itu belum sampai tahap komersial karena potensi listrik yang dihasilkan belum diketahui pasti.

Ephindo memiliki empat sumur di Sangata, tapi baru satu diproses. Adapun total sumber daya CBM di Indonesia sebesar 453,30 triliun kubik kaki. Sekitar 65 persen di antaranya di Sumatera dan Kalimantan. Proyek Ephindo, yang mengolah gas dari batu bara dan mengkonversikan itu menjadi listrik merupakan proyek pertama. Ephindo menggandeng Medco.

Pemerintah merencanakan proyek pertama CBM mulai bisa dinikmati hasilnya pada 2012. Pada 2015 ditargetkan produksi CBM bisa mencapai 100 juta standar kaki kubik per hari atau senilai US$ 2,5 juta. Mengingat proses pengolahan CBM yang cukup rumit, Wahyudin meminta pemerintah merevisi regulasi penjualan gas CBM.

"Kami minta supaya sebelum plan of development, gas ini sudah bisa dijual," kata Wahyudin. Selama ini produsen baru menjual gas setelah memiliki rencana pengembangan, meski sudah dipastikan terdapat potensi gas di lokasi yang akan dieksplorasi. Akibatnya perlu waktu lama dan proses berulang sampai gas bisa dijual atau dimanfaatkan.

Executive Director Energy AON Energy London, Paul O'Keefe, mengatakan pengembangan energi berbasis gas batu bara sangat diminati. Potensinya sangat tinggi dan murah. "Risikonya sangat minimal tapi ada isu terkait cost effectiveness," ujarnya. Ia mengatakan pemerintah perlu menetapkan nilai keekonomian dari pengembangan energi berbasis gas batu bara.

Indonesia memiliki 23 blok CBM. Lima di antaranya dalam proses ekslorasi. Nilai investasi untuk eksplorasi dan pengolahan mencapai US$ 322 juta. Lima sumur CBM itu di Tanjung Enim, Sangatta, Sekayu, Barito Banjar, dan Pulang Pisau. Kelimanya memiliki potensi produksi gas 4,25 MMSCFD atau jika dikonversikan menjadi listrik setara 10,6 Megawatt.

KARTIKA CANDRA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X