foto

Bandara El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur. TEMPO/ Robin Ong

Kuartal Kedua, Rencana Bisnis Merpati Ditargetkan Selesai

TEMPO Interaktif, Jakarta Pemerintah menargetkan rencana bisnis PT Merpati Nusantara Airlines akan segera selesai digodok. "Saya berharap mudah-mudahan di kuartal kedua ini sudah selesai, setidaknya di tingkat pemerintah," kata Menteri Badan Usaha Milik Negara Mustafa Abubakar, Jumat (11/3), di kantornya.

Menurut Mustafa, rencana bisnis yang digodok kali ini adalah pembaharuan dari rencana bisnis sebelumnya, karena ada beberapa hal yang harus dikoreksi dan menyesuaikan kembali dengan kebutuhan riil perusahaan saat ini.

"Setelah rampung di tingkat Kementerian BUMN, kemudian akan dibawa ke Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi. Nanti akan ditetapkan bersama Menteri Keuangan, apa saja yang perlu dibantu," kata Mustafa. Kemudian, pembahasan akan dilanjutkan bersama Komisi VI, Komisi XI, dan Badan Anggaran DPR untuk dimintai persetujuan.

Menurut Direktur Utama Merpati Sardjono Jhony Tjitrokusumo, beberapa waktu lalu, saat ini Merpati membutuhkan modal kerja sekitar Rp 600 miliar dan diharapkan diperoleh dari penyertaan modal negara (PMN). Dana tersebut akan digunakan Merpati untuk revitalisasi perusahaan dan pengadaan pesawat. Sementara, utang akan dibayarkan dari hasil produksi yang dilakukan.

Pada tahun ini, Merpati berencana menambah sebanyak 13 pesawat jenis Boeing 737 Classic Series 300,400, dan 500. Hingga akhir tahun, Merpati menargetkan kepemilikan pesawat sebanyak 23 pesawat. Laba operasi juga ditargetkan mencapai Rp 40 miliar, namun dengan syarat asumsi-asumsi dalam rencana bisnis yang baru terpenuhi.

Terkait permintaan tambahan modal sebanyak Rp 600 miliar, Mustafa belum bisa memberikan pernyataan apakah permintaan sejumlah tersebut akan dipenuhi. "Nanti kami lihat lagi. Sekarang mereka lagi kencang-kencangnya mengembangkan bisnis dan jadwal sudah masuk ke kami. Kami akan bahas dengan Menteri Keuangan," lanjut Mustafa.

EVANA DEWI