foto

Warga dan relawan bergotong royong memperbaiki pipa aliran air bersih di di Umbul Wadon dan Umbul Lanang (11/12). TEMPO/MUH SYAIFULLAH

Pengungsi Merapi Keberatan PMI Hentikan Pasokan Air

TEMPO Interaktif, Sleman - Warga  korban erupsi  Merapi menyatakan keberatan  atas rencana Palang Merah Indonesia menghentikan dropping air ke warga pengungsi, Selasa pekan depan. Jika rencana tersebut direalisasikan kebutuhan air bersih di lereng Merapi terancam kesulitan.

“Kebutuhan air warga di lereng Merapi saat ini masih mengandalkan dropping air. Karena pasokan   dari perusahaan air minum  belum pasti kapan bisa mengalirkan air dari sumber di lereng Merapi karena kondisi alam,” kata Camat Pakem, Sleman, Budiharjo, Senin (14/3).
 

Saat ini banyak bantuan paralon dari orangisasi swasta maupun perorangan, namun belum bisa dilakukan penyambungan ke sumber air guna mencukupi kebutuhan warga. Sebab, kondisi jalur ke sumber air di Umbul Wadon atau Umbul Lanang masih kerap terkena banjir lahar dingin.

Selain warga yang berada di daerah  terdampak erupsi Merapi, perhotelan dan penginapan di sekitar gunung itu juga masih membeli air.  Harga air juga cukup tinggi, untuk satu tangki air berisi lima  ribu liter, harganya mencapai  Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu.


Rencananya, Palang Merah Indonesia akan menghentikan pasokan air ke para pengungsi dan warga di lereng Merapi pada 23 Maret 2011 mendatang. Dropping air akan dilanjutkan oleh pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Pembangunan, dengan   8 truk tangki  yang dipunyai. Namun diperkirakan jumlah itu belum  mencukupi kebutuhan warga. Karena sebelumnya  Palang Merah Indonesia mengirim 70 tangki  setiap hari ke lokasi.


Menurut Urip Bahagia, Pelaksana Tugas Badan penanggulanan Bencana Daerah Kabupaten Sleman, masalah air bagi warga di lereng Merapi masih dalam pembahasan. Pihaknya berencana meminta perpanjangan dropping dari   Palang Maerah Indonesia. Jika tidak berhasil,  akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk  menyediakan  kebutuhan air bersih ini.

“ Kami akan mengupayakan ketersediaanya,  baik untuk yang mengungsi, maupun  yang tinggal di shelter dan sekitarnya,” kata Urip.

Jumlah warga  lereng Merapi dan masih mengandalkan pasokan  air lebih dari 20 ribu jiwa,  tersebar di kecamatan Cangkringan, Pakem, Turi maupun Tempel.


Saat ini, sedikitnya 2.200 pengungsi Merapi  masih berada di barak pengungsian. Terutama  di  di desa Kepuharjo  sebanyak 2000  jiwa  dan di desa Wukirsari sebanyak 200-an  pengungsi.

Seluruh fraksi DPRD Sleman  beberapa waktu lalu  menyepakati Keberadaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah kabupaten Sleman secara mandiri. Sebelumnya lembaga ini masih dikelola oleh  Dinas Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat. Dengan terbentuknya badan itu  pekerjaan penanganan bencana lebih optimal dan maksimal.

“Semua fraksi sependapat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah berdiri sendiri, sebab kebutuhannya sangat mendesak,” kata Wakil Ketua DPRD Sleman, Rohman Agus Sukamto.

MUH SYAIFULLAH