Golf Hilang, Eco Park Terbilang

TEMPO Interaktif, Jakarta - Ini kabar duka bagi penggemar olahraga golf. Terlebih bagi Anda yang biasa bermain di Ancol. Lapangan dengan 18 hole yang biasa Anda nikmati itu akan segera disulap menjadi wahana wisata baru bernama Eco Park. “Kami telah menutup area lapangan golf untuk dijadikan ruang terbuka hijau dan destinasi wisata baru,” ujar Direktur PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk., Budi Karya Sumadi, akhir pekan lalu.


Budi menjelaskan, peralihan peruntukan lahan tersebut ditempuh untuk menambah kapasitas ruang, sekaligus mendukung program penghijauan nasional berupa penanaman satu miliar pohon. Konsep penghijauan nantinya bertumpu pada tiga pilar konservasi dengan cara mempertahankan pohon yang ada, memindahkan dan menambah pohon yang baru.


Keberadaan Eco Park diharapkan mampu menjadi paru-paru ibukota dan menjadi sumber oksigen bagi masyarakat luas di Ancol dan sekitarnya,” ujarnya.


Eco Park memang bukan istilah baru. Istilah ini muncul pertama kali untuk menggantikan nama Edendale, sebuah distrik di pantai barat Los Angeles, Amerika Serikat, yang pernah menjadi kiblat pembuatan film sebelum bendera Hollywood berkibar. Nah, nama yang sama belakangan lazim digunakan sejumlah instansi yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan. Sebut saja Eco Park Cibinong Science Building yang digagas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.


Sebagai sebuah wahana wisata, Eco Park di Ancol mengusung konsep edutainment yang berwawasan ekologis: sebuah wahana rekreasi yang menyajikan hiburan serta pendidikan tentang keanekaragaman hayati pesisir dari seluruh nusantara. Konsep keanegakagaman hayati itu diterapkan lantaran Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki ribuan jenis tanaman pesisir yang terbentang dari Sabang hingga Merauke yang ironisnya, sebagian tanaman itu kini diketahui nyaris punah.


Dalam ekosistem pesisir, Mangrove, misalnya, merupakan jenis tanaman yang berperan penting dalam mengendalikan dampak kerusakan akibat abrasi dan intrusi air laut terhadap tata air permukaan. Tanaman itu juga berfungsi melindungi unsur hara di perairan pesisir yang berguna bagi habitat biota laut.


Begitupun dengan Mahoni. Pohon yang berasal dari kawasan Barat Indonesia ini merupakan jenis tanaman yang dapat tumbuh subur bila ditanam di pasir payau dekat dengan pantai. Pohon ini juga kerap ditanam di tepi jalan lantaran kemampuannya menyaring polusi 47 hingga 69 persen dari udara.


Menjadikan keanekaragaman hayati pesisir nusantara sebagai platform pusat rekreasi merupakan bagian dari kampanye pelestarian lingkungan hidup. Arti penting kampanye itu akan tergambar jika menyimak hasil penelitian Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional pada 2004. Penelitian itu memaparkan banyaknya kemerosotan kualitas ekosistem lingkungan pesisir di Indonesia akibat praktek industrialisasi, pembukaan lahan tambak, sawit, pemukiman serta pembalakan liar. Utamanya daerah yang berada di pesisir Utara Jawa, Pantai Timur Sumatera dan Kalimantan bagian Timur.


Potret kelam itulah yang juga mendorong manajemen Ancol mencanangkan program “We Do Green”. Program tersebut ditandai secara simbolik lewat penanaman 100 bibit pohon langka oleh sembilan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Gubernur DKI Jakarta, perwakilan negara-negara sahabat, kalangan pengusaha, di lahan Eco Park akhir pekan lalu. Sejumlah artis lokal dan internasional ikut berpartisipasi dalam kegiatan saat itu. “Ini momen yang baik untuk menyuarakan kampanye tentang pelestarian keanekaragaman hayati pesisir nusantara kepada dunia internasional,” ujar Budi.


Pascaseremoni itu, manajemen Ancol masih akan menanam belasan ribu bibit lagi, mempercantik danau, serta membuat taman satwa dan jalur sepeda untuk menjelmakan Eco Park. Itu tentu bukan pekerjaan mudah dan tidak akan selesai dalam beberapa malam saja. “Proyek ini kami perkirakan selesai dalam tiga tahun,” ujar juru bicara Ancol, Sofia Cakti.


Komitmen terhadap lingkungan juga ditunjukkan dengan menghindari penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak di sekitar Eco Park. Sebagai gantinya, Ancol berencana menyediakan puluhan kapal bertenaga listrik yang bisa digunakan pengunjung untuk mengelilingi danau. Mesin kapal tersebut diklaim dapat beroperasi selama lebih dari lima jam hanya dengan mengisi baterai selama satu jam.


Dan tentu saja sepeda-sepeda. Fasilitas ini disediakan untuk mengelilingi wahana Eco Park seluas 33,6 hektare atau setara 51 kali luas lapangan sepak bola Gelora Bung Karno itu nantinya.


Semua obsesi itu tentu tidak terlepas dari kalkulator seorang pebisnis. Sebagai salah satu satu aset Badan Usaha Milik Daerah yang 70 persen sahamnya dimiliki pemerintah DKI, Ancol jelas sangat berkepentingan menggenjot pertumbuhan jumlah pengunjung setiap tahunnya. Tujuannya tidak lain agar kontribusi yang dihasilkan untuk pundi pemasukan asli daerah semakin melejit.


Jika wahana Eco Park selesai dibangun, Sofia yakin target kenaikan jumlah pengunjung pada 2015 akan menembus angka 20 juta. “Tahun lalu ada kenaikan jumlah pengunjung sebesar 10 persen menjadi 14,5 juta dan kami menyumbangkan sekitar Rp 40 miliar bagi Pemasukan Asli Daerah,” ujarnya.


Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Arie Budiman mengaku sangat mengapresiasi terobosan yang diambil manajemen Ancol yang akan mengkonversi lapangan golf menjadi taman ekologi. Menurut dia, perubahan fungsi lahan itu merupakan jawaban atas wahana rekreasi publik yang jumlahnya masih jauh dari kebutuhan.


Konsep Eco park pun juga akan memberikan nilai tambah terhadap perbaikan kualitas lingkungan serta perluasan segmen wisatawan. “Konsep ini sangat mendukung lingkungan berwawasan nusantara, dan partisipasi publik yang akan menikmati wahana tersebut pasti jauh lebih banyak jika dibanding peminat lapangan golf,” ujarnya.


RIKY FERDIANTO