Pemerintah Simulasikan Harga ICP US$ 90 per Barel  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Pemerintah memberikan simulasi harga Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$ 90 per barel. Ini merupakan asumsi kemungkinan harga ICP sepanjang tahun 2011.

"Di future market semua lembaga memberi US$ 90," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo usai rapat kerja dengan Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat, hari ini.

Agus mengatakan, dengan asumsi harga ICP US$ 90 per barel dan kemungkinan lifting minyak tidak tercapai ada penambahan defisit Rp 12,5 triliun. Namun di sisi lain, adanya asumsi penguatan nilai tukar rupiah ke Rp 8.800 per dolar berarti akan ada tambahan Rp 6,8 triliun. "Itu sudah memasukkan kenaikan dana pendidikan," katanya.

Dengan asumsi simulasi seperti itu, Agus mengatakan akan ada penambahan defisit tetap 1,8 persen dari target APBN 2011 1,7 persen. "Ini masih dibawah 2 persen," katanya.

Selain itu, Agus memberikan exercise pertumbuhan ekonomi ada di 6,5 persen dan suku bunga acuan di 7 persen.

Pemerintah juga akan melakukan upaya penghematan sebesar Rp 16,5 triliun. "Jadi masih aman untuk APBN tidak ada kekhawatiran," katanya.

Pada saat yang sama pemerintah akan menyediakan risiko fiskal sebesar Rp 14,2 triliun untuk PLN, kalau seandainya PLN tidak memperoleh pasokan gas, tidak bisa menyelesaikan proyek 10 ribu megawatt dan PLN tidak mampu mengurangi tingkat kerugian. "Itu faktor-faktor yang harus dijaga," katanya.

Tren kenaikan ICP sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan ini juga banyak dipengaruhi ketegangan politik di Timur Tengah. "Rata-rata ICP bergerak antara US$ 80 - 100 per barel," kata Agus.

Setiap kenaikan ICP US$ 1 per barel akan berdampak pada APBN sebesar Rp 100 miliar. Namun terhadap dana pendidikan yang harus dialokasikan sebesar 20 persen dari APBN, akan ada penambahan sebesar Rp 800 miliar. "Sehingga ada ancaman Rp 800 miliar," kata Agus.

Sedangkan apabila nilai tukar rupiah menguat Rp 100 per dolar, akan memberi dampak terhadap minyak dan gas sebesar Rp 700 miliar.

IQBAL MUHTAROM