REUTERS/Truth Leem
Topik
Intervensi Gabungan Berhasil Redam Penguatan Yen
TEMPO Interaktif, Sydney—Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara industri yang tergabung dalam kelompok G7 mengumumkan akan melakukan intervensi gabungan di pasar mata uang untuk pertama kalinya sejak tahun 2000 guna membantu Jepang menghambat apresiasi yen.
Apakah tindakan ini akan efektif dalam jangka panjang masih harus dilihat, tetapi komitmen bersama ini langsung bereaksi dan mampu menahan penguatan yen dipasar.
Mata uang yen pagi ini pukul 10:35 WIB telah melemah 2,92 poin (3,7 persen) menjadi 81,815 dari posisi sebelum diumumkan langkah intervensi bersama ini di level 79,14 per dolar AS.
Pelemahan yen juga berimbas positif ke bursa Tokyo dimana indeks Nikkei 225 pagi ini naik 158,26 poin (1,77 persen) ke level 9.120,93. Demikian pula bursa Asia lainnya juga menguat hari ini.
G7 dalam sebuah pernyataannya mengatakan untuk merespon naiknya nilai tukar yen akibat gempa dan tsunami di Jepang dan atas permintaan dari pemerintah Jepang, Amerika, Inggris, Kanada dan bank sentral Eropa akan bergabung untuk melakukan intervensi bersama dipasar mulai 18 Maret.
Nomura, salah satu perusahaan broker di Jepang melaporkan intervensi dimulai pada pukul 9 pagi waktu Tokyo, bank sentral Jepang (BoJ) telah melakukan operasi pasar dan bank sentral lainnya akan mengikuti sesuai zona waktu masing - masing.
Anggota kelompok G7 terpaksa harus melakukan intervensi menyusul gempa dan tsunami akhir pekan lalu yang menewaskan ribuan penduduk dan dan pemerintah Jepang menyebut sebagai krisis yang terburuk sejak Perang Dunia II. Krisis ini belum berakhir karena pemerintah masih berusaha menghentikan dampak radiasi akibat bocornya pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima.
Sepanjang pekan ini yen menguat tajam terhadap dolar AS karena spekulasi bahwa modal Jepang yang ada diluar negeri akan kembali dipulangkan (repatriasi) untuk membantu rekonstruksi, mambayar klaim asuransi, dan menutup kerugian seiring anjloknya bursa saham Tokyo.
Langkah ini memicu BoJ untuk menstabilkan mata uangnya guna melindungi para eksportir, karena mereka merupakan bagian terpenting dari pertumbuhan ekonomi Jepang.
Intervensi gabungan yang dilakukan oleh negara anggota G7 ini yang untuk pertama kali pasca melakukan intervensi terhadap penguatan euro pada tahun 2000 lalu. G7 mengatakan, bahwa volitilitas berlebihan pada suatu mata uang dapat berimplikasi negative terhadap stabilitas dan keuangan global.
Ahli strategi dari Nomura mengatakan langkah intervensi G7 ini ini merupakan pernyataan yang kuat dan sangat terkoordinasi sehingga akan lebih efektif dibandingkan dengan dilakukan hanya oleh satu negara.”Kami pikir intervensi ini dapat menstabilkan yen diatas level 80 per dolar AS. Apakah langkah ini bisa berhasil akan tergantung dari besarnya usaha dan komitmen intervensi gabungan ini,” paparnya.
MARKETWATCH/ VIVA B.K





