foto

Gerai Starbucks. TEMPO/Panca Syurkani

Konflik Libya Pengaruhi Harga Kopi

TEMPO Interaktif, New Orleans – Konflik di Libya tak hanya berpengaruh pada meroketnya harga minyak dunia. Para analis menyebut naiknya harga kopi di pasaran internasional salah satunya disebabkan oleh konflik di Libya dan bencana gempa di Jepang dua pekan lalu.

Starbucks Cofee Company telah memutuskan akan menaikkan harga kopi dalam kemasan, rata-rata 12 persen. Chief Executive Starbucks Cofee Company, Howard Schultz mengatakan ketatnya pasokan berkualitas tinggi biji arabika telah mendukung naiknya harga di pasar.

“Investor (kopi) selalu gugup di akhir pekan karena konflik Libya,” kata Schultz pada pertemuan Asosiasi Kopi Nasional pada hari Jumat. Tapi, pemasok dan produsen itu menjawab tidak.

 

Namun, Schultz menemukan kenyataan yang berbeda. "Setiap pemasok yang saya ajak bicara, setiap produsen, hal pertama yang saya tanyakan adalah, ''Apakah ada masalah dengan penawaran dan permintaan?''" kata Schult.

Belakangan, harga kopi robusta juga naik. Kopi jenis ini biasanya diolah untuk menjadi kopi instan atau digunakan sebagai alternatif campuran untuk roasted coffee. Pada Jumat lalu, harga kopi robusta mencapai tertinggi sejak tiga tahun pada US$ 2.672 per ton, basis Mei.

Selain Starbucks, pengolah kopi lainnya juga membebankan biaya pada konsumen. Baru-baru ini, Kraft Foods menaikkan harga daftar untuk sebagian besar produknya sebesar 22 persen. Kenaikan ini adalah yang keempat kalinya dan merupakan peningkatan terbesar dalam satu tahun terakhir. Kenaikan harga efektif pada 16 Maret.

Pada hari yang sama, Massimo Zanetti Benerage USA meningkatkan biaya merek terkenal termasuk Chock Full o''Nuts, rata-rata 12 persen.

Bulan lalu, JM Smucker Co juga menaikkan harga kopi merk Folgers sebesar 10 persen.


Reuters | Eka Utami Aprilia | Erwindar