Pasokan Udang untuk Industri Minim

TEMPO Interaktif , Makassar -  Industri pengolahan makanan jadi di Makassar masih mengeluhkan kurangnya pasokan bahan baku udang. PT Bogatama Marinusa, misalnya, membutuhkan pasokan udang sebanyak 15 ton per hari. ”Tapi dalam satu hari, pasokan bahan baku untuk pabrik yang dikelolanya hanya tiga sampai lima ton,” kata Presiden Direktur PT Bogatama Marinusa Tigor Cendarma di kantornya,  Senin (21/3).


Dengan kondisi itu, Tigor mengatakan, pada 2010 udang yang diolah hanya 2.000 ton. Padahal, menurut dia, kapasitas pabrik bisa lebih dari jumlah itu. ”Ini masih sangat kecil karena udang yang diolah dari berbagai jenis, baik udang windu, vanname, maupun jenis lainnya,” katanya.


Belum lagi, Tigor mengungkapkan, kebutuhan udang dunia sangat tinggi yakni mencapai 6 juta ton setiap tahun. Kebutuhan itu terus meningkat 5 sampai 10 persen. ”Indonesia hanya mampu menyuplai 300 ribu ton setiap tahun,” ujarnya. Menurut dia, kondisi ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia khususnya Sulawesi Selatan menjadi daerah pengembangan udang.


Untuk menutupi pasokan yang kurang, Tigor mengatakan, PT Bogatama menyuplai bahan baku dari beberapa daerah lain di Sulawesi Selatan eperti Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Timur. “Tapi, inipun masih sangat kecil jika dibanding dengan kebutuhan pabrik dan peluang pasar ekspor,” kata dia.


Karena itu, dia berharap petani petambak--melalui pendampingan pemerintah—terus meningkatkan jumlah produksi udang. Menurut dia, dengan menggunakan potensi tambak yang ada, petani bisa meningkat produksi melalui benur bersertifikasi SUPERVISOR AQUA. ”Selain meningkatkan produksi, juga meningkatkan kualitas.”


Produksi udang Sulawesi Selatan pada 2010 tidak mencapai target. Dari target 23 ribu ton, yang terealisasi hanya 22 ribu ton. Menurut Sulkaf Sultan Latif, Kepala Bidang Budi Daya Dinas Perikanan dan Kelautan Sulawesi Selatan, capaian produksi udang pada 2011 sebesar 92,9 persen. ”Saya tidak tahu penyebab menurunnya produksi padahal banyak permintaan baik lokal maupun luar,” katanya.


Dia mengakui ekspor udang Sulawesi Selatan menurun. Pada 2009 sebanyak 5,2 ribu ton dengan nilai ekspor US$ 46 juta. Tapi pada 2010 menjadi 4,8 ribu ton dengan nilai US$ 52 juta. “Terjadi penurunan 400 ton atau senilai 7,5 persen untuk volume ekspornya, namun nilainya lebih besar karena harga udang semakin mahal,” katanya.


Adapun Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sulawesi Selatan Iskandar mengatakan, target produksi udang sebesar 33 ribu ton akan tercapai pada 2014. Sebab produksi pada 2010 sebesar 22 ribu ton. Menurut Iskandar, jumlah itu meningkat dibanding pada 2009, yang mencapai 19 ribu ton. “Produksi diprediksi tercapai sebab setiap tahunnya meningkat,” katanya.


Iskandar menambahkan, pemerintah terus membantu petani untuk pembudidayaan udang. Selain bibit udang 30 juta ekor, pemerintah juga membantu kebutuhan petani dengan memasok 3 miliar ekor udang. Perihal anggaran, Iskandar mengatakan, pada 2011 disiapkan Rp 3,8 miliar. Dana dari pemerintah pusat sebesar Rp 12,9 miliar. “Dana itu untuk bantuan bibit petani tambak di 20 kabupaten,” ujarnya.

 

SYAMSULMARLIN