TEMPO/Anang Zakaria
Topik
Tak Gentar Gempuran Pasar
TEMPO Interaktif, Bantul - Karya memang tak mengenal batas usia. Soekiman, 63 tahun, memang tak lagi muda. Namun jemari tuanya masih cekatan bekerja. Menuang adonan pewarna dalam cetakan, meratakan dan kemudian melapisi permukaannya dengan semen putih bercampur kapur (kalsium) kental.
Dua tahap pembuatan tegel dilalui. Kini tinggal melapisi dengan campuran semen dan pasir, dua kali.
Dan, Grek!. Derit mesin pres memadatkan cetakan. Sebuah tegel setengah jadi selesai dibuat oleh Soekiman. “Tinggal direndam dan dikeringkan,” bapak tiga anak ini bertutur disela kesibukan kerjanya, Rabu (23/3) siang kemarin.
Warga Desa Sonosewu Kecamatan Kasihan, Bantul itu bekerja sebagai pencetak tegel sudah selama 45 tahun, atau hampir dua pertiga dari usianya kini. Dari satu pabrik ke pabrik yang lain, sejak usianya 17 tahun. Tahun 1965, saat masih bujang, dia telah bekerja di pabrik tegel Piramid di kawasan Kalibayem. “Sekarang sudah tutup pabrik itu,” Soekiman mengenang.
Sepuluh tahun kemudian, di tahun 1976, saat putra bungsunya lahir, dia pindah ke pabrik tegel cap Kunci di jalan KS.Tubun Yogyakarta. Disinilah, hingga kini Soekiman meneruskan kehidupan sebagai pencetak tegel. Wajar jika kini dia menguasai betul seluk beluk pembuatan tegel. Entah berapa banyak karyawan baru yang menjadi “muridnya” saat baru pertama kali bekerja sebagai pembuat tegel.
Seperti tak banyak orang yang menekuni profesi Soekiman, tak banyak pula pabrik pencetak tegel yang tersisa. Satu persatu, pabrik tegel bertumbangan. “Tutup buku” seiring dengan tergantikannya fungsi tegel sebagai ubin lantai dengan keramik modern.
Selain pabrik tegel Piramid, di Yogyakarta, pabrik tegel lain yang dulu pernah ada adalah Diamond. “Tapi sekarang sudah tak memproduksi lagi,” kata Benny Making, kepala produksi di Pabrik Tegel cap Kunci berkisah.
Dan kini, dengan jumlah karyawan mencapai 60 orang yang terbagi dalam dua shift –siang dan malam-, pabrik tegel Kunci menjadi satu-satunya yang tersisa. Tak hanya di Yogyakarta, “Bahkan di Indonesia,” kata Benny, yang telah lima tahun bekerja di pabrik itu.
Didirikan oleh dua warga Belanda Louis Maria Stocker dan Jules Gerrit Commane pada 1927, pabrik tegel cap Kunci mulai beroperasi pada 16 Desember 1927. Awalnya pabrik ini bernama Firma Tegel Fabrik Midden Java. Pada 1931, Jules mengundurkan diri dan sahamnya dibeli oleh Liem Ing Hwie. Berlanjut pada 1942 di awal pendudukan Jepang, saat banyak orang Belanda meninggalkan Indonesia, Louis pun hengkang dari pabrik. Sehingga pabrik pun dikuasai sepenuhnya oleh Liem.
Pasang surut peralihan kepemilikan pabrik tak berhenti. Agresi militer Belanda ke Yogyakarta pada 1949 memaksa pabrik berhenti beroperasi dan kembali beroperasi setahun kemudian, pada 1950. Namun, tujuh tahun kemudian, pemerintah kembali menasionalisasi pabrik dan mengganti nama Midden Java dengan Pabrik Tegel dan Beton Cap Kunci pada tahun 1963. Pabrik baru dikembalikan ke ahli waris Liem, Suleiman, 10 tahun kemudian. “Sekarang pemilik pabriknya Bernnie Muljawati, istri Suleiman,” kata Benny.
Sejak awal berdiri hingga kini, pabrik ini tetap mempertahankan diri memproduksi tegel. Berbeda dengan keramik modern yang kinclong, warna-warna tegel lebih kalem. Motifnya pun masih mempertahankan motif jadul (jaman dulu) yang terbilang klasik dan unik. Semisal hewan –ayam, kupu dan bebek-, bunga dan batik. Beberapa motif itu dicetak per tegel. Namun ada juga yang dicetak per bagian sehingga pemasangannya mirip merangkai potongan puzle. Selain tegel bermotif ada juga tegel polos. Ada 49 warna dasar yang disediakan. Warna dasar itu sekaligus menjadi dasar rangkaian warna untuk tegel bermotif.
Baik tegel polos ataupun bermotif dibuat empat lapisan dengan ketebalan mencapai 2 sentimeter. Lapisan pertama adalah permukaan tegel yang disebut kepala, kemudian beber pertama yang ada di bawah lapisan permukaan, beber abu-abu dan kaki yang menjadi lapisan terbawah tegel. Tegel-tegel itu dicetak dalam berbagai ukuran. Dari yang terbesar 30X30 sentimeter, 20X20 sentimeter, 15X15 sentimeter hingga yang terkecil 8X8 sentimeter.
Tegel bermotif, kata Benny, harganya tentu lebih mahal dibanding dengan tegel polos. Mencapai Rp 137-199 ribu per meter persegi. Harga itu tergantung kerumitan motif yang dipesan konsumen. Meski pabrik telah menyediakan 100 lebih model motif, tak menutup kemungkinan konsumen memesan sesuai dengan desain motif baru yang diingingkan. Untuk itu, biasanya pemesan harus membayar biaya tambahan sebesar Rp 1 juta.
Adapun untuk tegel polos, lanjut dia, harganya lebih murah namun tetap bervariasi. Dari yang standar seharga Rp 54 ribu per meter persegi hingga kualitas di atas standar, seharga Rp 63 ribu dan Rp 86 ribu per meter persegi. Perbedaan harga itu, ditentukan juga kepekatan warna yang dipesan. Kian pekat warna tegel, kian mahal harganya.
Menurut dia, kebanyakan konsumen tak bisa langsung mendapat tegel yang diinginkan. Hal itu berdasar banyaknya pesanan dan kemampuan produksi pabrik. Biasanya, untuk pesanan tegel seluas 80-100 meter persegi, konsumen harus sabar menunggu proses pengerjaan selama 3-4 bulan. “Kalau lebih luas dari 100 meter persegi bisa lebih dari 4 bulan,” kata dia sembari menyebut kemampuan produksi pabrik mencapai 80-100 meter persegi per hari.
Produksi tegel di pabrik ini masih mempertahankan cara lama. Prosesnya sederhana. Berbeda dengan keramik modern, tegel setengah jadi –seperti dibuat Soekiman- tidak dioven, melainkan direndam dalam bak air. Cara itu dilakukan untuk memperkuat struktur tegel dan merapatkan pori-pori bahan bakunya. “Karena dibuat dari semen, kalau dioven justru pecah,” kata dia.
Setelah itu, tegel dikeringkan dengan diangin-anginkan di atas rak bertingkat. “Tidak dijemur di bawah matahari,” lanjut dia. Dan, tegel pun siap dipasarkan sesuai dengan pesanan.
Bagi Benny, kesan kuno dan antik yang melekat di tiap tegel menjadi poin tersendiri di tengah gempuran pasar keramik modern. Konsumennya justru datang dari kalangan menengah ke atas, di dalam dan luar negeri.
Beda Benny, beda lagi bagi Soekiman. Selain bertani, mencetak tegel lebih dari sekedar profesi yang digelutinya selama bertahun-tahun. Namun, sekaligus telah menjadi cerita sejarah hidupnya. “Di sini, di pabrik ini,” kata dia menutup perjumpaan dengan Tempo, seorang mantunya pernah bekerja sebelum menikahi seorang putrinya. “Saya juga yang mengajarinya mencetak tegel.”
ANANG ZAKARIA (BANTUL)





