TEMPO/Jacky Rachmansyah
Kepengurusan Nurdin Halid Tak Diakui FIFA, Ini Langkah Pemerintah
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pemerintah menyambut baik keputusan induk sepak bola dunia, FIFA, ihwal pembentukan Komite Normalisasi yang mengambil alih tugas Komite Esksekutif Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia. Pengambialihan ini sesuai pasal 7 ayat 2 Statuta FIFA karena anggapan komite eksekutif gagal menggelar kongres.
"Intinya pemerintah menyambut baik keputusan FIFA untuk membentuk Komite Normalisasi dan mengambil alih ekspo kepengurusan PSSI yang sekarang ini," kata Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Selasa, 5 April 2011.
Komite Normalisasi disebut Andi sejalan dengan keputusan pemerintah yang tak mengakui kepengurusan PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid. "Dengan demikian maka semuanya sudah klop apa yang diputuskan FIFA dan pemerintah."
Karena itu, Andi melanjutkan, pemerintah tinggal menunggu kapan Komite Normalisasi resmi dibentuk dan diisi dengan sejumlah personel. Pemerintah siap menindaklanjuti dengan memenuhi sejumlah fasilitas yang dibutuhkan.
"Pemerintah segera memfasilitasi, agar Komite Normalisasi bisa memberi pelayanan, serta bisa menjalankan tugasnya menyelenggarakan Kongres Pemilihan Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum PSSI, dan ekspo PSSI lainnya," kata Andi.
Sikap FIFA diambil menyusul kekisruhan di tubuh PSSI. Komite Darurat FIFA memperkirakan kepemimpinan PSSI tidak bisa mengontrol sepak bola di Indonesia. PSSI dinilai gagal mengontrol Liga Primer Indonesia yang tetap berjalan tanpa keterlibatan PSSI. Badan sepak bola tertinggi di Indonesia itu juga dinilai gagal menyiapkan kongres yang mengadopsi electroral code dan memilih komisi pemilihan.
Dituliskan juga Komite Normalisasi ini memiliki tiga misi. Pertama, menyelenggarakan pemilihan berdasarkan electoral code FIFA dan statuta PSSI sebelum tanggal 21 Mei 2011. Kedua, membawa liga yang berada di luar (LPI-red) ke bawah kendali PSSI atau dihentikan secepat mungkin.Ketiga, menjalankan tugas harian PSSI dalam semangat rekonsiliasi demi kebaikan sepak bola Indonesia.
Isma Savitri





