Pertunjukkan teater " "Macbeth"-a Tribute to William Shakespeare" oleh Road Teater di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat (8/04). (TEMPO/Jacky Rachmansyah)
Topik
Bersama Macbeth Mereka Kembali
TEMPO Interaktif, Jakarta -Di Hutan Great Birnam, Macbeth mengukir takdirnya. DI hutan yang terkenal angker itu, Macbeth dan sahabatnya Banquo yang baru pulang berperang melawan pasukan Norwegia bertemu tiga peri.
Perkataan tiga peri hutan tentang dirinya membuatnya besar kepala. Macbeth, seorang jenderal yang terkenal kehebatannya di Skotlandia itu diramal bakal menjadi raja. Lelaki itu awalnya tidak percaya. Namun, rasa percaya dirinya membuncah ketika satu persatu ramalan peri-peri tersebut menjadi kenyataan. “Aku akan menjadi raja,” katanya girang .
Macbeth (Madin Tyasawan) bertekad mewujudkannya. Baginya ramalan itu tak mungkin menjadi nyata bila tak ada daya upaya. Darah hanyalah sekadar warna, tumpukan mayat hanyalah sekadar angka.
Satu-satunya jalan menuju tahta raja adalah melalui pedang. Siapapun yang menghalangi mimpinya harus disingkirkan, termasuk raja. Dibantu sang istri, Lady Macbeth (Lilis Ireng), Macbeth membunuh DuncanI(Supri Bomi), raja Skotlandia yang tengah menginap di puri mereka. Selanjutnya, satu per satu lawan politiknya dia habisi.
Macbeth bahkan tega membunuh Banquo (Ricky Panca Putra). Dia takut sahabatnya itu akan membocorkan rahasia tentang ramalan tiga peri hutan.
Macbeth akhirnya menjadi raja. Tapi hidupnya selalu dihantui ketakutan. Lady Macbeth bahkan sampai gila lantaran tak kuat menanggung Perasaan takut dan gelisah itu mendorong Macbeth untuk mencari peri-peri itu lagi.
Tiga peri penghuni hutan angker mengatakan Macbeth akan tetap hidup sampai hutan Great Birnam pindah ke bukit Dunsinane. Peri-peri itu juga bilang, satu-satunya yang bisa membunuh Macbeth adalah seseorang yang bukan dilahirkan dari rahim seorang perempuan.
Ramalan yang dianggapnya mustahil itu ternyata menjadi kenyataan. Lewat sebuah kudeta, dia kehilangan tahta sekaligus nyawa. Puluhan ribu prajurit yang menyamar dengan menggunakan pucuk pepohonan hutan Birnam menyerbu Bukit Dunsinane. MalcoMacbeth mati ditangan Macduff, seorang jenderal yang lahir lewat pembedahan perut jenazah ibunya.
Inilah sandiwara tragedi klasik karya pujangga William Shakespeare yang dipentaskan Road Teater di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat dan Sabtu malam lalu. Tak sekadar sebuah tribute to William Shakespeare. Macbeth juga menjadi awal kembali berkiprahnya Road Teater setelah lama vakum. Pementasan kisah Macbeth yang menggunakan naskah adaptasi WS Rendra itu itu sekaligus untuk mengenang para pemainnya yang telah tiada.
Sejak ditinggal sutradara Wahjoedin Norsan yang wafat pada 1994, kelompok teater yang berdiri pada 5 Juli 1973 itu tak lagi naik panggung alias mati suri. Padahal, sebelumnya kelompok teater yang awalnya bernama Teater Gelanggang Remaja Jakarta Barat ini terbilang rajin berpentas.
Sejumlah lakon drama karya dramawan dalam dan luar negeri pernah dimainkan, di antaranya Lawan Catur,Syekh Siti Jenar, Caligula, Trilogi Orkes Madun dan Nabi Kembar.
Dibawah penyutradaraan Nasri Cheppy dan Wahjoedin, berkali-kali Road Teater terpilih sebagai Grup Terbaik dalam ajang Festival Teater Remaja Jakarta. Pada 1977, D. Djajakusuma sebagai Dewan Kesenian Jakarta menetapkan kelompok ini sebagai Grup Senior.
Kini, Road Teater yang diketuai Madiastuti New mencoba kembali berkarya. Tekad itu tercetus setelah beberapa pemain berkumpul pada 19 September 2010. Pimpinan produksi Road Teater, Slamet Budi Santoso menjelaskan Macbeth dipilih setelah melewati berbagai pertimbangan dan analisis.
Saat lakon klasik ini diputuskan agar divisualisasikan menjadi karya pentas, tak hanya dibutuhkan kemampuan akting dan intelektualitas untuk mencerna isi lakon, namun juga sejumlah dana yang tak sedikit. Mereka juga dituntut memiliki kejelian interpretasi untuk menangkap roh dan esensi lakon.
Amien Kamil yang dipercaya sebagai sutradara menyuguhkan lakon yang telah berulangkali dipentaskan oleh berbagai kelompok teater itu dengan cara lain. Dia menggabungkan spirit tradisi teater rakyat dengan ekspresi seni topeng. “Topeng bisa menampilkan pesona dan misteri, serta tafsir bagi yang menyaksikan,” katanya.
Maka seluruh wajah pemain yang merupakan gabungan aktor-aktor Road Teater generasi 70-an dan generasi muda itu ditutup topeng. Amin membuat masing-masing topeng itu berdasarkan penafsirannya terhadap naskah. “Topeng mampu menguatkan karakter masing-masing tokoh,” katanya. Sayangnya, karena tertutup topeng, ekspresi wajah masing-masing pemain menjadi tak terbaca. Topeng juga terkadang membuat dialog yang diucapkan pemain menjadi kurang jelas.
Nunuy Nurhayati





