foto

REUTERS/Molly Riley

New York Kian Sesak dengan Gelandangan  

TEMPO Interaktif, New York - Jumlah gelandangan di New York City, Amerika Serikat, mencapai rekor tertinggi dalam sejarah akibat dampak resesi dan kebijakan Wali Kota New York Michael Bloomberg, yang pernah bersumpah akan memangkas dua pertiga jumlah gelandangan di kota tersebut.

Pejabat kota mengeluhkan laporan lembaga, yang menamakan dirinya Koalisi untuk Tunawisma, terkesan bernada miring dan mengabaikan perbaikan selama tahun fiskal berjalan. Namun, para pejabat itu mengakui pemotongan belanja publik telah menghambat upaya mereka memerangi tunawisma alias gelandangan.

Kenaikan jumlah gelandangan terdorong sebagian oleh dampak krisis keuangan dan resesi selama 2007-2009. Laporan Koalisi menyebutkan 113.553 orang tidur di penampungan tunawisma milik kota pada tahun fiskal 2010. Angka itu naik 9 persen ketimbang tahun sebelumnya, dan naik 39 persen dari tahun fiskal 2002 tatkala Bloomberg mengambil alih kantor Wali Kota.

Pada 2004, menurut laporan tersebut, Bloomberg berjanji untuk mengurangi tunawisma sebanyak dua pertiga dalam waktu lima tahun. Tapi jumlah orang yang menghabiskan malam-malamnya di lokasi penampungan tunawisma mencapai rekor hampir 40 ribu orang selama satu malam saja pada Februari 2011.

Jumlah tunawisma pada tahun fiskal 2010 meliputi hampir 43 ribu anak-anak, atau sekitar 9 persen dari kenaikan angka gelandangan. Koalisi menyalahkan perubahan kebijakan Bloomberg yang menempatkan batas waktu yang ketat dalam membayar subsidi sewa untuk para tunawisma.

"Kebijakan gagal dari Wali Kota menciptakan pintu ke tempat penampungan, yang memperburuk krisis dan menggiring jumlah gelandangan di New York City kepada rekor tertingginya," kata Patrick Markee, penulis laporan Koalisi, dalam sebuah pernyataan, Senin (12/4) waktu setempat.

Seth Diamond, Komisaris Kota untuk Layanan Tunawisma, mengeluhkan laporan Koalisi yang gagal dalam menyebutkan jumlah tunawisma yang turun 2 persen pada tahun fiskal berjalan, dari 1 Juli sampai sekarang. Empat persen penurunan di antaranya anak-anak.

Turunnya angka gelandangan, kata Seth, disebabkan perbaikan pada kebijakan kota untuk menekan pekerja dan menggenjot jumlah pekerjaan ketimbang hanya menunggu uluran subsidi pemerintah. "Saya pikir kami sudah sangat berhasil dalam mendorong orang untuk bekerja dan memindahkan orang dari sistem subsidi," ujarnya.

Kota tersebut bakal menghadapi penderitaan baru lantaran Negara Bagian New York, menghadapi defisit anggaran sendiri, yang menghapuskan pengeluaran untuk program pemberian subsidi sewa bagi para tunawisma sejak 1 April lalu.

REUTERS | BOBBY CHANDRA