foto

TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

Perajin Tempe Cemaskan Harga Kedelai  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Perajin tempe di Jakarta mengeluhkan penurunan omzet akibat mahalnya harga kacang kedelai. Safari, perajin tempe yang memiliki pabrik di Bintaro, Jakarta Selatan, mengaku beberapa bulan ini omzet per hari anjlok hingga 50 persen.

Harga kedelai saat ini menjadi Rp 6.500 per kilogram dari sebelumnya Rp 4.000-5.000 per kilogram. Namun, Safari tak bisa menaikkan harga jual agar tak kehilangan pembeli. "Saya siasati dengan mengurangi kemasan. Biasanya ukuran plastik besar sekarang lebih kecil," ujar Safari di Jakarta, Selasa (12/4).

Dalam sehari, pabrik Safari membutuhkan pasokan kedelai 500 kilogram untuk sekuintal tempe. Pria yang sudah menekuni usaha pembuatan tempe sejak usia 15 tahun ini biasa menjual produksinya ke berbagai warung makan, pasar, dan pesantren di wilayah Bintaro, seharga Rp 10 ribu per kilogram.

"Pendapatan bersih saya rata-rata 150 ribu per hari. Kalau dulu waktu harga kedelai masih murah pendapatan bisa 2 kali lipat," ujar Safari. Bahan kacang kedelai ia dapat dari importir di kawasan Plumpang, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Nasib serupa dialami perajin tahu di Kuningan Timur, Jakarta Selatan. Menurut Suparmin, 56, dalam sehari dia memerlukan 80 kilogram kedelai yang dipasok dari koperasi pengrajin tempe dan tahu. Pria yang menjadi perajin tahu sejak 1983 ini biasa memasarkan produknya ke wilayah Tanah Abang.

"Pendapatan bersih saya Rp 100 ribu per hari. Modal awal saya waktu itu Rp 10 juta untuk dua kali produksi. Tapi saya hanya industri rumahan kecil," kata Suparmin, pengrajin tahu asal Solo itu.

Ketua Primer Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia Jakarta Selatan Tohari menjelaskan, pihaknya biasa menghabiskan 900-1.000 ton kedelai per bulan untuk disalurkan pada anggotanya. "Anggota kami 1.080 orang, terdiri atas perajin. Juga ada 270 calon anggota di 8 wilayah Jakarta Selatan," katanya.

ROSALINA