Topik
Gas untuk Industri Jawa Timur Dialirkan Bertahap
TEMPO Interaktif, Jakarta - Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) menyatakan bahwa tambahan gas untuk industri Jawa Timur akan dipasok secara bertahap sampai dapat memenuhi kebutuhan.
"Saat ini memang pasokannya belum sesuai kebutuhan karena kami masih menemui beberapa kendala," ujar juru bicara BP Migas, Elan Biantoro, hari ini (12/4).
Kendala yang dialami pemerintah untuk mengalirkan gas bagi industri terutama adalah persoalan infrastruktur yang belum memadai. "Selain itu juga masih harus menanti rencana pengembangan beberapa blok dan lapangan gas yang belum aktif berproduksi," tuturnya.
Kemungkinannya, tambahan pasokan sementara ini akan dialirkan dari lapangan gas Terang, Sirasun, dan Batur yang baru diuji coba mengalirkan gas kemarin. "Tapi untuk permulaan tidak begitu banyak, sekitar 20-40 juta kaki kubik," kata dia.
Pasokan ini akan bertambah hingga menjadi 405 juta kaki kubik per hari sesuai dengan permintaan tambahan pasokan dari Pemerintah Jawa Timur apabila lapangan-lapangan gas tersebut mencapai puncak produksinya pada 2012-2013 mendatang.
Diberitakan sebelumnya, Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jawa Timur mendesak pemerintah segera menambah pasokan gas untuk memenuhi kebutuhan industri di seluruh Jawa Timur. Desakan ini menyusul terus berkurangnya pasokan gas bagi industri Jawa Timur.
Gubernur Jawa Timur mengaku telah berkirim surat kepada BP Migas untuk menambah pasokan gas, setidaknya untuk mencukupi kekurangan sebesar 405 juta kaki kubik per hari. Berdasarkan data, realisasi pasokan gas untuk kebutuhan dalam negeri adalah sebanyak 4.342,71 billion british thermal unit per day (BBTUD) atau sekitar 50,18 persen dari produksi.
Realisasi 2010 kepada industri melalui penjualan gas kepada PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) maupun langsung ke industri sebesar 1203,18 BBTUD. Kontrak tahun 2011 meningkat sebesar 1.690,43 BBTUD. Peningkatan pasokan untuk industri diharapkan berasal dari Kalila Bentu dan JOB Pertamina PetroChina East Java.
GUSTIDHA BUDIARTIE





