Kapal MV Sinar Kudus. Arne Jürgens (shipspotting.com)
Topik
Seorang Awak Kapal Sinar Kudus Dikabarkan Kritis
TEMPO Interaktif, Jakarta - Totok Sugiyanto, sahabat Slamet Jauhari, nakhoda kapal MV Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia, mengatakan satu dari 20 awak kapal yang disandera saat ini dalam kondisi kritis. Totok mendapat kabar itu setelah mengadakan hubungan telepon dengan Slamet kemarin pagi.
Mengutip penjelasan Slamet, Totok menceritakan bahwa selama beberapa minggu terakhir para lanun Somalia itu hanya memberi mereka makan satu kali sehari. "Mereka tidak memberikan obat kepada yang sakit," kata Totok. Seluruhnya ada 14 awak kapal yang sedang sakit, satu di antaranya dikabarkan kritis.
Para awak kapal MV Sinar Kudus disandera sejak 16 Maret lalu. Kapal ini dibajak di Semenanjung Arab saat melakukan perjalanan dari Pomalaa, Sulawesi Tenggara, menuju Rotterdam, Belanda. Bersama semua awaknya, kapal bermuatan nikel itu kini bersandar di Pantai Eil, Somalia.
Dalam hubungan telepon itu Slamet juga menanyakan respons pemerintah. "Tok, aku minta tolong bagaimana cara kami bisa dibebaskan. Kok pemerintah tenang-tenang saja," ujar Totok, menirukan Jauhari. Menurut Totok, setelah hampir sebulan disandera, karibnya sesama alumnus Pendidikan Pelayaran Besar Semarang tahun 1979 ini tetap berusaha tenang, walau secara mental dan fisik mulai ada penurunan. Jauhari bahkan sempat marah ketika dinasihati agar bersabar. "Kalau tak sabar, saya bisa gila, bisa loncat ke laut."
Totok mengungkapkan, jika tidak ada perhatian pemerintah, Kesatuan Pelaut Indonesia tak akan tinggal diam. "Kami akan turun ke jalan!"
Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan akan terus melakukan negosiasi soal uang tebusan antara pemilik kapal dan gerombolan pembajak. Dalam tiga hari terakhir nilai tuntutan tebusan yang diminta pembajak terus berubah-ubah. Awalnya para perompak meminta uang tebusan hingga US$ 3,5 juta. Belakangan, menurut Feby Susilo, adik ipar Masbukhin, seorang awak yang disandera, uang tebusan turun menjadi US$ 3 juta.
“Para kru sudah membujuk para perompak, dan pembajak bersedia menurunkan tuntutannya,” ujar Feby setelah mendengar kabar dari Masbukhin, Senin. Wakil Direktur Utama PT Samudra Indonesia Tbk, David Batubara, membenarkan bahwa tuntutan pembajak soal uang tebusan memang terus berubah-ubah.
ARYANI KRISTANTI | HARI TRI WASONO | DWI A





