foto

Kacang kedelai.Foto ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Stok Dunia Melimpah, Harga Kedelai Lokal Bakal Turun

TEMPO Interaktif, Jakarta - Harga kedelai dalam negeri diperkirakan bakal turun mengikuti pergerakan harga kedelai di pasar internasional. "Harga kedelai internasional menurun 2,66 persen," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Jakarta, akhir pekan lalu.

Penurunan itu seiring dengan estimasi kenaikan produksi kedelai di Argentina hingga 48,8 juta ton pada 2011. Sementara itu, produksi di Brasil diperkirakan sampai 70,3 juta ton. Namun pergerakan harga kedelai lokal tak bersamaan dengan kondisi yang terjadi di pasar dunia.

Menurut kajian Kementerian Perdagangan, koefisien variasi untuk komoditas kedelai mencapai 1,8. Jika nilai koefisien di atas 1, maka harga di dalam negeri lebih berfluktuasi dibanding harga dunia. Inilah yang menyebabkan harga kedelai dalam negeri tampak mahal.

Data Kementerian menyebutkan, selama Januari-Maret harga kedelai terus meningkat. Pada Januari, harga rata-rata nasional untuk kedelai lokal mencapai Rp 8.651 per kilogram. Sedangkan pada Maret, harganya justru naik mencapai Rp 8.953 per kilogram.

Harga rata-rata kedelai impor tidak jauh berbeda dengan produk lokal. Pada Maret, harga mencapai Rp 8.416 per kilogram. Harga naik dibanding Januari, yang hanya Rp 8.142 per kilogram. Padahal, sejak akhir Januari lalu, pemerintah sudah menurunkan bea masuk kedelai dari 5 persen menjadi nol persen.

Menurut Mari Elka, ada kemungkinan kedelai yang masuk ke Indonesia masih menggunakan tarif bea masuk. "Tapi, beberapa bulan ke depan, harga kedelai akan turun," ujarnya. Kondisi ini mulai terlihat ketika pekan pertama April harga kedelai mencapai Rp 8.910 per kilogram, atau turun 0,93 persen dibanding Maret.

Ketua Dewan Kedelai Nasional Benny Kusbini mengatakan, harga kedelai baik tinggi maupun rendah sebenarnya hanya menguntungkan sebagian orang. Kalau harga terlalu rendah, itu akan menyulitkan petani. Jika harga tinggi, memberatkan perajin tempe. "Idealnya, harga harus reasonable untuk semua pihak," ujarnya.

Harga kedelai Indonesia, menurut Benny, tak bisa dibandingkan dengan harga internasional. "Petani kita masih konvensional, produknya tak bisa berkompetisi dengan hasil produksi Brasil atau Argentina, yang sudah menggunakan sistem mekanisasi pertanian," ujarnya.

EKA UTAMI APRILIA