foto

Mangrove tumbuh di pesisir pantai

Mangrove Jadi Benteng Mukomuko dari Tsunami

TEMPO Interaktif, Bengkulu - Warga Desa Pasar Sebelah, Kecamatan Kota Mukomuko, Kabupaten Mukomuko, mendapat keuntungan ekonomi setelah adanya peraturan desa tentang pelestarian hutan mangrove. "Kami tidak menyangka hutan mangrove ini membawa keuntungan ekonomi bagi warga desa," kata Thabrani, kepala desa, kepada wartawan kemarin.

Inisiatif pembuatan peraturan tersebut berawal dari langkanya kayu. Mereka khawatir hutan mangrove yang ada di pesisir bakal ditebang. Karena itu, warga sepakat agar hutan mangrove di sepanjang 5 kilometer Sungai Manjunto perlu dilestarikan melalui payung hukum.

Tak hanya itu, kata Thabrani, warga juga melakukan budi daya. Alhasil, kini kepiting bakau dan ikan jadi mata pencarian tambahan warga. Dalam satu minggu, mereka mampu menjual 400 kilogram kepiting dengan harga Rp 30-40 ribu per kilogram ke Sumatera Barat.

Peraturan itu mengatur perlindungan mangrove yang ada di desa yang dihuni 215 keluarga. Sekitar 30 persen warga kini menjadi pencari kepiting bakau di Sungai Manjunto.

Sejak peraturan itu dibuat pada 2005, baru satu kali kasus pencurian kayu mangrove terjadi. Sanksi bagi pelanggar adalah wajib mengganti satu batang pohon dan denda Rp 100 ribu. Jika tidak, akan diserahkan ke polisi.

Menurut Thabrani, tidak hanya keuntungan ekonomi, mangrove juga jadi benteng menghadapi tsunami bagi Bengkulu, yang pesisirnya rawan bencana.

Pada 12 Juli 2007, terjadi tsunami kecil di Desa Pasar Sebelah. Gelombang laut setinggi 1 meter, yang mengarah ke permukiman dan perkebunan warga, bisa ditahan oleh barisan hutan bakau. "Rumah warga dan kebun jagung tidak rusak."

PHESI ESTER JULIKAWATI