Flip Video dari Cisco
Topik
Lonceng Kematian Camcorder Saku
TEMPO Interaktif, Jakarta - Kabar mengejutkan itu tersiar pekan lalu. Kamera video Flip, camcorder yang laris manis, terutama di negeri asalnya, Amerika Serikat, tak lagi diproduksi.
John Chambers, bos Cisco System, selaku produsen Flip, membenarkan hal itu. Padahal penjualan gadget mungil ini masih nomor satu di Amerika tahun lalu. Pangsa pasarnya mencapai 26 persen.
Kamera video Flip awalnya dikembangkan oleh Pure Digital Technologies. Dengan alasan pengembangan bisnis, pada 2009 Cisco System mengakuisisi Flip senilai US$ 590 juta.
Tujuan akuisisi itu, menurut para petinggi perusahaan pembuat peralatan networking terbesar di dunia, untuk memperkuat bisnis segmen consumer.Namun, baru dua tahun berjalan, Cisco menutup divisi ini. Tampaknya mereka ingin kembali berkonsentrasi ke bisnis utama, yakni menyasar pasar korporat.
Banyak yang kecewa dan tak mengerti dengan keputusan Cisco yang terkesan mendadak tersebut. Salah satunya Daniel Giovani, 23 tahun.
Daniel, yang bekerja pada agensi digital social media manager, mengaku mengincar Flip sebelum produk ini resmi diluncurkan di Indonesia. Ia membelinya pada akhir 2010 dan tak pernah mengalami masalah. Ia pun mengaku puas atas kinerja camcorder ini. "Flip itu ringkas," katanya.Kualitas hasil rekaman yang baik didukung kesederhanaan pengoperasian memang menjadi keunggulan produk ini.
Untuk menyalakan Flip, pengguna cukup menekan tombol power dan langsung membidik obyek tanpa direpotkan untuk membuka penutup lensa. Hasil rekaman bisa langsung diedit dan diunggah ke berbagai situs Internet. Hal itu dimungkinkan berkat peranti lunak Magic Movie yang disertakan.
Dari segi kualitas rekaman, Daniel menilai Flip yang terbaik di kelasnya. Sebab, Flip sudah mendukung gambar high definition beresolusi 1.280 x 720 piksel.
Kini, adanya kabar penutupan divisi Flip oleh Cisco membuat Daniel cemas. Jika terjadi masalah dengan camcorder miliknya, ia mempertanyakan jaminan garansi dan suku cadangnya. "Apakah ada penggantinya?"
Juru bicara Cisco, Karen Tillman, tak memberi penjelasan secara tegas alasan penutupan divisi Flip ini. Padahal bisa saja mereka kembali menjualnya.
Namun banyak pengamat mengatakan bahwa keberadaan Flip, begitu juga dengan camcorder kompak lainnya, sudah tak lagi dominan. Sebab, di dunia digital yang semakin berkembang, merekam dan mengunggah video bisa langsung dari iPhone, telepon seluler Android, atau BlackBerry.
"Inovasi cepat dari ponsel pintar adalah salah satu penyebab matinya berbagai gadget pintar, seperti kamera digital atau alat pemutar musik digital," kata seorang analis dari Pacific Crest Securities. "Itu pula yang membuat Flip mati."
Dengan alasan itu pula vendor elektronik asal Jepang, Sony, akan meninggalkan pasar camcorder saku dan menghentikan distribusi di Indonesia mulai 2011. Rupanya, penjualan Bloggie, camcorder saku berkualitas high definition andalan Sony sejak 2009, tak sedahsyat yang dibayangkan.
"Kami hanya melihat kesuksesan penjualan di Amerika dan Australia," ujar Supervisor Handycam Product Marketing Digital Imaging Business Group PT Sony Indonesia, Helen Wahyudi, Rabu lalu. Menurut Helen, kesederhanaan yang ditawarkan Bloggie justru menjadi kelemahan bagi pasar di Indonesia. Di sini konsumen cenderung memilih perangkat perekam video berukuran besar. Akibatnya, tampilan ringkas Bloggie dianggap tak mirip camcorder lazimnya.
FIRMAN | ANTON WILLIAM





