foto

Sofjan Wanandi. TEMPO/Panca Syurkani

APINDO: Perdagangan Bebas Rugikan Indonesia  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) berharap agar kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Uni Eropa yang saat ini sedang dibahas tidak berbentuk free trade area (FTA) atau pasar bebas.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi, berkaca dari pengalaman penerapan Cina-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) Indonesia justru dirugikan karena tidak siap menghadapi persaingan dengan Cina. "Persoalannya ada pada Indonesia sendiri yang tidak siap, banyak persoalan yang belum diselesaikan di dalam negeri untuk menghadapinya," katanya.

Jika kali ini Indonesia memaksakan mengadakan kerja sama dalam bentuk FTA dengan Uni Eropa maka akan berisiko. Sebab, penataan dan penguatan dalam negeri belum dilakukan. "Kalau belum siap jangan dipaksa, saya rasa akan banyak kerugian jika dalam bentuk FTA," katanya.

Ia berharap jika pemerintah ingin tetap menjalin kerja sama dengan Uni Eropa maka semestinya dalam bentuk kemitraan yang komprehensif yang mencakup kerja sama di bidang teknis, teknologi, investasi, dan capacity building. "Uni Eropa bisa meningkatkan investasi di Indonesia, membawa teknologinya, dan sekaligus memberikan pendampingan untuk peningkatan capacity building produsen Indonesia agar produknya bisa masuk ke Uni Eropa," ujarnya.

Uni Eropa terdiri dari 27 negara besar, satu sisi bisa menjadi peluang besar bagi Indonesia. Namun, di sisi lain, jika Indonesia salah mengambil strategi bisa berakibat buruk. Jadi, semestinya posisi Indonesia dengan Uni Eropa harus bisa saling melengkapi.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Kerjasama Industri Internasional Kementerian Perindustrian, Agus Tjahajana, menyatakan bahwa kerja sama Indonesia dengan Uni Eropa masih dalam tahap pengkajian. Telah dibentuk tim yang bertugas mengkaji untung dan biaya kerja sama tersebut.

AGUNG SEDAYU