BPS Ingatkan Perdagangan Bebas ASEAN-Australia dan Selandia Baru
TEMPO Interaktif, Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik, Rusman Heriawan, mengingatkan pemerintah harus hati-hati menghadapi rencana Perdagangan Bebas ASEAN dengan Australia-Selandia Baru. Pasalnya, dalam setahun terakhir neraca perdagangan dengan dua negara terus mengalami penurunan.
“Pemerintah harus lebih hati-hati,” kata Rusman, hari ini.
Pada Maret lalu, neraca perdagangan Indonesia dengan Australia tercatat defisit US$ 216,5 juta. Ekspor nonmigas ke Australia tercatat hanya senilai US$ 163,5 juta. Sementara, impor nonmigas dari Australia tercatat US$ 380 juta.
Dibanding neraca ekspor, neraca impor nonmigas dari Australia jauh lebih besar. Untuk perdagangan Januari-Maret tercatat US$ 479,5 juta. Hanya naik sedikit dibanding neraca perdagangan Januari-Maret pada tahun lalu senilai US$ 465,5 juta. Hal ini sangat berbeda dengan neraca impor yang melaju pesat.
Pada Januari-Maret, neraca perdagangan nonmigas dari Australia tercatat US$ 1,2 miliar. Sementara, pada Januari-Maret tahun lalu tercatat US$ 913 juta atau naik US$ 287 juta. Angka ini dua puluh kali lebih besar dibanding perkembangan ekspor tahunan ke Australia.
Menurut Rusman, di samping sedikitnya neraca ekspor rencana perdagangan bebas ini akan merugikan karena sedikitnya jenis produk yang bisa diekspor ke Australia. Di sisi lain, barang impor utama seperti susu dan sapi dari Australia tidak tergantikan.
“Kalau perdagangan bebas ditandatangani, produk dari mereka akan terus membanjir,” kata Rusman.
Untuk jenis susu, keju, dan sapi, hingga kini, menurut dia, perdagangan dalam negeri masih bergantung dari impor Australia. Apalagi secara geografis negara itu lebih dekat dibanding harus mengimpor dari Brasil dan Kanada.
Letak geografis ini akan lebih memudahkan masuknya produk Australia ke dalam negeri. Di sisi lain, produk lokal belum bisa menembus lebih banyak pasar di Asutralia.
Kondisi perdagangan dengan Selandia Baru menurut Rusman relatif sama dengan Australia. Apalagi kedua negara itu memiliki produk utama seperti susu dan keju. Saat ini, produk Australia dan Selandia Baru yang masuk ke pasar lokal didominasi produk berteknologi tinggi.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa sempat menyebutkan pemerintah akan segera meratifikasi perjanjian perdagangan bebas ASEAN dengan Australia-Selandia Baru. Ratifikasi akan dilakukan sebelum pelaksanaan ASEAN Summit pada 7-8 Mei mendatang di Jakarta.
Dari kerja sama ini, Hatta berharap Australia bisa mengembangkan peternakan sapi lokal. Sementara, produk lokal yang bisa diandalkan untuk bersaing adalah sepatu, sandal, dan minyak sawit mentah.
IRA GUSLINA





