foto

Tempo/Seto Wardhana

Harga Naik, Konsumsi Pertamax Terus Melorot  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 9.050 per liter dipastikan membuat konsumsi bahan bakar nonsubsidi ini terus menurun. "Kalau seperti ini konsumsinya bisa turun," kata Anggota Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Adi Subagyo, ketika dihubungi Tempo, Senin 2 Mei 2011.

Kenaikan harga Pertamax cukup membuat dilema pemerintah. Apalagi saat ini pemerintah sedang gencar melakukan sosialisasi penggunaan Pertamax untuk menekan konsumsi BBM bersubsidi. "Kalau seperti ini akan susah menganjurkannya," ujar Adi.

Konsumsi yang terus menurun juga diakui Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas Nasional (Hiswana Migas) selaku pelaku usaha dalam retail BBM. Ketua Hiswana Migas, Eri Purnomo Hadi, menyatakan pada kenaikan di angka Rp 8.700 untuk Pertamax bulan lalu, penurunan konsumsi cukup drastis. Data April dari Pertamina, konsumsi Pertamax itu turun hingga 20-25 persen.

Dengan kenaikan harga Pertamax mencapai Rp 9.050 per liter, Eri memperkirakan konsumsi Pertamax bisa turun 35 persen. "Bedanya hampir separo. Masyarakat bisa berpindah lagi untuk gunakan BBM bersubsidi," katanya. Kendati demikian, Pertamina tetap yakin terus menganjurkan masyarakat memakai Pertamax. "Jalan terus. Itu bagian dari edukasi," tuturnya.

"Standarnya untuk mobil di atas tahun 2005 juga harus menggunakan RON yang BBM-nya tinggi," kata Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina, Djaelani Soetomo. Mengenai harga pertamax yang naik hingga Rp 9.050, Djaelani menerangkan kenaikan tersebut tak bisa dihindari karena adanya kenaikan harga minyak dunia.

Konsumsi Pertamax tercatat terus melorot sejak Februari lalu. Berdasarkan data BPH Migas konsumsi BBM nonsubsidi hanya sebesar 53.057 kiloliter pada Februari, atau turun sekitar 15,41 persen dari konsumsi biasa. Pada Maret, konsumsi BBM nonsubsidi juga turun 12 persen dari bulan sebelumnya.

Berbanding terbalik dengan konsumsi Pertamax, konsumsi BBM subsidi jenis Premium justru terus meningkat. Hingga Maret lalu, konsumsi Premium mencapai 9,6 juta kiloliter atau setara dengan 25 persen kuota tahun ini sebesar 38,5 juta kiloliter. Angka 9,6 juta Kiloliter ini juga lebih tinggi 5,4 persen dari kuota kuartal pertama 9,1 juta kiloliter.

GUSTIDHA BUDIARTIE