ICP April Sentuh US$ 123 per Barel

TEMPO Interaktif, Jakarta - Harga Minyak Mentah Indonesia (Indonesia Crude Price atau ICP) kembali naik. Kenaikan sekitar US$ 10 dolar dari harga Maret lalu menjadikan harga rata-rata minyak mentah Indonesia hampir menyamai harga minyak dunia pada bulan ini menjadi US$ 123 per barel.

Menurut Tim Harga Minyak Indonesia, seperti dikutip dari siaran persnya, Selasa, 3 Mei 2011, peningkatan tersebut sejalan dengan perkembangan harga minyak mentah utama di pasar internasional, "Akibat beberapa faktor, yaitu berlanjutnya instabilitas kawasan Libya, dari Timur tengah seperti Suriah, Yaman, Bahrain, Iran, dan Irak."


Peristiwa itu terus meningkatkan kekhawatiran pasar atas terganggunya pasokan minyak dari kawasan tersebut. Hal itu terjadi meski Arab Saudi mengklaim telah meningkatkan pasokan minyaknya untuk mengganti kehilangan hingga 1,6 juta barel per hari dari pasokan minyak Libya.

Faktor lain yang mendorong naiknya harga minyak adalah meningkatnya permintaan minyak mentah dunia berdasarkan data International Energy Agency (IEA), Energy Information Administration (EIA), dan OPEC. IEA dalam laporan Maret 2011 memperkirakan tingkat konsumsi minyak dunia tahun 2011 mencapai 89,4 juta barel per hari. "Atau meningkat 1,5 juta barel per hari dibandingkan tahun 2010," demikian bunyi laporan itu.

Pertumbuhan permintaan tersebut juga ditopang oleh konsumsi negara-negara maju, terutama Cina, Brasil, dan Timur Tengah. Selain itu, dalam laporan Maret 2011, OPEC juga memperkirakan tingkat konsumsi minyak dunia tahun ini mencapai 87,8 juta barel per hari atau meningkat 1,4 juta barel per hari dibandingkan tahun 2010.

Meningkatnya harga minyak dunia bulan Maret 2011 juga disebabkan oleh naiknya aktivitas spekulasi di pasar perdagangan berjangka minyak mentah NYMEX. Di antaranya, volatilitas harga minyak yang tinggi dan kekhawatiran terganggunya pasokan yang diindikasikan dengan kontrak jual-beli minyak mencapai rekor tertinggi sebesar 268.622 kontrak pada awal Maret.

Bencana Jepang juga turut menyumbang harga kenaikan minyak dunia. Sebab, akibat gempa yang dialaminya, Jepang dipastikan kehilangan pasokan listrik sebesar 9,7 GigaWatt dari 11 reaktor nuklirnya.

Dengan demikian, permintaan minyak medium heavy, batubara, dan LNG juga meningkat untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.

GUSTIDHA BUDIARTIE