TEMPO/Seto Wardhana.
Topik
Cuaca Buruk, Penyerapan Gabah Petani Tersendat
TEMPO Interaktif, Purwokerto – Berakhirnya masa panen raya di tingkat petani membuat harga gabah masih di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Selain itu, cuaca yang tidak menentu menyebabkan penyerapan beras oleh mitra Bulog menjadi tersendat.
“Panen di tingkat petani rendah. Selain itu kadar air cukup tinggi, sehingga mitra Bulog banyak yang menolak gabah petani,” ujar Kepala Humas Bulog Subdivre IV Banyumas Muhammad Priyono, Selasa 3 Mei 2011.
Priyono menyebutkan, target program penyerapan beras nasional tahun ini oleh Bulog Banyumas sebesar 95 ribu ton setara beras. Hingga saat ini, penyerapan beras dari target tersebut baru 47 persen atau sebesar 45 ribu ton setara beras. Namun, ia optimistis hingga akhir tahun nanti target sebesar 95 ribu ton bisa terpenuhi.
Priyono mengakui, pembelian gabah dan beras dari petani oleh para mitra kerja Bulog mengalami kendala cuaca yang tidak menentu. Ia menambahkan, faktor cuaca sangat mempengaruhi proses penjemuran gabah.
Ia menambahkan, sebagian wilayah Kabupaten Cilacap dan Banyumas akan mulai memasuki masa panen pada pertengahan bulan Mei, antara lain Kecamatan Kawunganten (Cilacap) dan wilayah timur Banyumas.
Menurut Purnomo, 35 tahun, petani di Desa Sumbang, Kecamatan Sumbang, Banyumas, harga gabah kering panen saat ini mencapai Rp 2.800 per kilogram. Sedangkan HPP saat ini dipatok pada harga Rp 2.640 per kilogram.
Sedangkan untuk gabah kering giling, kata Purnomo, saat ini dijual dengan harga Rp 3.300 per kilogram. “Mungkin sebentar lagi harga gabah bisa turun karena musim panen diperkirakan akhir bulan ini,” ujarnya.
ARIS ANDRIANTO





