indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Tanah Ambles, Tanggul Lumpur Lapindo Rawan Jebol

Tanah Ambles, Tanggul Lumpur Lapindo Rawan Jebol

TEMPO/Fully Syafi

TEMPO Interaktif, Sidoarjo -Kawasan tanggul penahan lumpur Lapindo di Porong Kabupaten Sidoarjo rawan ambrol. Penyebabnya, terjadi penurunan tanah atau land subsidence di seluruh kawasan di sekitar pusat semburan. Sehingga "Semua titik rawan jebol," kata juru bicara Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, Achmad Khusairi, Selasa, 3 Mei 2011.

Selain itu, desakan lumpur juga mempengaruhi kekuatan tanggul tersebut. Lantaran, setiap hari volume lumpur terus bertambah memenuhi kolam penampungan. Akibatnya, tanggul rawan longsor. Meski, setiap saat petugas BPLS memantau kawasan tanggul dan memeriksa kekuatannya.

Ancaman tanggul jebol terjadi tak hanya di sisi utara dan timur yang belum terpasang beronjong. Namun, sisi barat yang telah diperkuat dengan beronjong juga rawan ambruk.

Selama lima bulan terakhir terjadi empat kali tanggul jebol. Desember 2010 lalu, tanggul lumpur di desa Glagaharum titik 79-80 jebol menyebabkan sawah dan pemukiman warga Desa Gempolsari terendam air disertai lumpur.

Pada Februari, beronjong di titik 21 dan 22 kolam lumpur Desa Siring jebol secara beruntun hingga mengganggu perjalanan kereta. Akhir April 2011, tanggul di titik 68 ambrol mengancam pemukiman warga Kedungbendo.

Hingga kini, titik 68 belum diperbaiki karena lumpur mengeras dan tak bisa dibangun tanggul kembali.

Menurut Khusairi, kondisi tanggul mengancam keselamatan para pekerja. Solusinya, katanya, perlu kolam baru penampung lumpur di bagian utara tanggul. Kolam baru dibutuhkan lantaran kolam utama telah melebihi kapasitas.

Warga Gempolsari Kecamatan Tanggulangin yang berada tak jauh dari tanggul yang jebol mengaku khawatir. Sebab, lokasi pemukiman warga hanya dipisahkan sawah sepanjang 200 meter. Mereka juga trauma akibat ambrolnya tanggul titik 79 Glagaharum yang menggenangi rumah warga. "Rumah terendam air, kami mengungsi," kata Nurul Khasanah warga Gempolsari.


EKO WIDIANTO


Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X