foto

Anis Baswedan. TEMPO/Yosep Arkian

Anis Baswedan: Jangan Hanya Menganalisis Teroris  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Rektor Universitas Paramadina Anis Baswedan mengatakan pelaku terorisme selalu dianalisis begitu mereka beraksi. Di sisi lain, sasaran atau korban aksi terorisme tak pernah dianalisis. Padahal, menganalisis sasaran atau korban teror sama pentingnya untuk mengetahui sebab-musabab suatu aksi teror terjadi atau akan terjadi.

"Kejadian teror adalah bentuk interaksi antarkelompok, kadang dalam bentuk violence dan nonviolence. Jadi, perlu membaca interaksi ini," katanya dalam diskusi Tempo Institute, Rabu, 4 Mei 2011.

Menurut Anis, sasaran teror selama ini selalu diabaikan. Menganalisis sasaran atau korban cenderung dinilai tak populer dibandingkan menganalisis pelaku teror. "Bahkan analisis pada pelaku teror sampai berlebihan," katanya.

Menurut Anis, munculnya gerakan radikalisme dan ekstremisme disebabkan oleh banyak faktor. Faktor yang sangat fundamental adalah pupusnya harapan. Ketika hal itu berpadu dengan rasa ketidakadilan, akan menimbulkan frustrasi, dan berpotensi mewujud menjadi tindak kekerasan.

Dia mencontohkan kasus di Irak. Kemiskinan ternyata bukan menjadi penyebab meningkatnya aksi ekstremisme dan radikalisme di Irak, yang berwujud ke dalam aksi bom bunuh diri. Aksi bom bunuh diri banyak terjadi setelah Amerika Serikat menginvasi negara yang pernah dipimpin Saddam Hussein itu.

"Saya jamin tak akan ketemu jawabannya selama yang dianalisis adalah pelaku teror," katanya.

MAHARDIKA SATRIA HADI