Topik
Jembatan Merak-Bakauheni akan Menambah Ketimpangan Barat dan Timur Indonesia
TEMPO Interaktif, Jakarta - Ketua Tim Percepatan Investasi Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan, Rokhmin Dahuri, mengatakan pembangunan jembatan Merak-Bakauheni hanya akan menambah ketimpangan perekonomian bagian barat dan timur Indonesia.
“Saat ini konsentrasi perekonomian hanya di Jawa dan Sumatra. Padahal, Sumatra tidak mendapatkan kesulitan pendistribusian kebutuhan ekonominya,” kata Rokhmin Dahuri saat presentasi di Loka Karya Konsep Pembangunan Kelautan dan Perikanan Sebagai Sumber Kemajuan dan Kerja Sama Kesejahteraan Masyarakat Nusa Tenggara Barat, di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu 4 Mei 2011.
Karena itu, kata Rokhmin, biaya pembangunan jembatan Merak-Bakauheni yang akan menelan biaya Rp 200 triliun itu sebaiknya digunakan untuk menyediakan kapal-kapal feri untuk kepentingan transportasi nasional.
‘’Disparitas (akibat pembangunan jembatan Merak-Bakauheni) akan semakin menganga. Biaya sebesar itu bisa digunakan untuk sistem feri nasional,’’ katanya di depan para kepala dinas Pemerintah Provinsi NTB yang mengikuti loka karya tersebut.
Menurutnya, dalam enam tahun terakhir, 75 persen pertumbuhan ekonomi digerakkan oleh sektor finansial dan sektor non perdagangan yang sedikit menyerap tenaga kerja. S ektor ini umumnya terdapat di wilayah perkotaan terutama di pulau Jawa.
Dikatakannya, sudah 66 tahun Indonesia merdeka tapi masih sebagai negara berkembang dengan angka pengangguran dan kemiskinan yang tinggi. Pendapatan per kapita rendah, hanya US$ 3.000. Bandingkan dengan Malaysia US$ 10 ribu, Thailand US$ 6.000, dan Singapura US$ 38 ribu.
Penyebab utama ketertinggalan Indonesia, kata dia, karena belum punya visi dan konsep pembangunan tepat dan benar, serta tidak dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan.
Sejak era kolonialisme hingga akhir Orde Baru, kata Rokhmin Dahuri, pembangunan di Indonesia terlalu berorientasi daratan. Padahal, 75 persen wilayahnya berupa laut dengan jumlah 17.504 pulau, dan Indonesia mempunyai 95.200 kilometer garis pantai yang kaya dengan beragam sumber daya alam. ‘’Seakan laut dan pulau kecil sebagai beban pembangunan,’’ ujar mantan Menteri Kelautan ini.
SUPRIYANTHO KHAFID





