Harga Tinggi, Produksi Kopi Sulsel Malah Turun

TEMPO Interaktif, Makassar - Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sulawesi Selatan mengaku tak mampu memenuhi permintaan ekspor kopi ke luar negeri karena minimnya hasil produksi. Padahal, harga kopi saat ini sedang meningkat cukup signifikan, mencapai Rp 55 ribu per kilogram, atau naik Rp 25 ribu dari harga sebelumnya yang hanya mencapai Rp 30 ribu.

Akibat minimnya produksi kopi ini, menurut Wakil Ketua I AEKI Sulsel Franky Djamal, permintaan ekspor pada awal tahun ini hanya sebesar 50 persen. “Patut disayangkan karena kita tidak bisa memanfaatkan kenaikan harga ini dengan produksi yang lebih banyak,” ujar Franky di Makassar, Rabu 4 Mei 2011.

Franky menambahkan, hingga akhir Maret, realisasi ekspor kopi dari Sulsel hanya sebesar 138,5 ton. Padahal, bulan sebelumnya ekspor mencapai 263,5 ton. Kopi-kopi tersebut paling banyak diekspor ke Amerika Serikat, Jepang, Belgia, dan Cina. “Kami berharap tahun depan jumlah produksi bisa kembali meningkat,” tuturnya.

Menurut Franky, selama ini para eksportir kopi merasa takut dan khawatir memenuhi permintaan dari luar negeri karena produksi dalam negeri yang tidak menentu. “Kami khawatir jumlah produksi tidak sesuai dengan permintaan dari luar,” katanya.

 

ANISWATI SYAHRIR