storm.no
Topik
Puting Beliung Ancam Jakarta
TEMPO Interaktif, Jakarta - Angin puting beliung berpeluang menerjang wilayah Jakarta dan sekitarnya hingga akhir pekan ini. Menurut Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Edvin Aldrian, puting beliung tersebut berasal dari proses pembentukan awan hujan pada musim pancaroba seperti saat ini.
"Di musim pancaroba, angin tidak memecah awan, namun justru meningkatkan awan yang menjulang," kata Edvin kemarin.
Edvin mengatakan awan hujan yang menjulang ini disebabkan oleh adanya massa udara yang mengangkat uap air dari laut utara Jakarta. Kondisi itu didukung angin yang bertiup dari barat, kemudian melalui pegunungan di Banten, sehingga membentuk angin bergelombang dan turun di Jakarta.
Edvin mengatakan gejala datangnya puting beliung bisa ditandai dengan timbulnya awan kumulonimbus alias awan yang mendadak gelap, seperti yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya kemarin.
Puting beliung yang berpeluang menerjang Jakarta tidak memiliki kecepatan 30-50 knot. Namun dia mengimbau warga tetap waspada. Edvin mengaku tidak tahu kapan puting beliung ini akan datang. "Harus waspada," katanya.
Menurut Edvin, peluang munculnya puting beliung akan diiringi curah hujan yang sporadis. Hal ini dipengaruhi siklus MJO (Madden Julian Oscillation), yakni siklus cuaca ekstrem yang berosilasi tiap 30-40 hari sekali dan berpotensi menumpahkan hujan deras berhari-hari.
"Sekarang ini periode basah. Nanti 30 hari kemudian periode kering. Terus bergantian sampai musim kemarau," ujar Edvin.
Hujan deras dengan intensitas tinggi disertai angin dan petir mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak pukul 09.00 hingga 10.00 WIB kemarin. Di Jakarta, jarak pandang kendaraan hanya beberapa meter. Sejumlah ruas jalan menjadi macet karena air menggenang di mana-mana.
"Jarak pandang hanya dua mobil depan. Kawan-kawan saya memilih menepi biar aman," ujar pengemudi taksi, Agus, yang melintasi Jalan Jenderal Sudirman menuju Blok M.
Di Cawang, Jakarta Timur, arus lalu lintas sempat macet. Banyak pengendara sepeda motor berkumpul dan berteduh di bawah tiang-tiang jalan layang. "Bahaya, mending berteduh dulu," kata Ilham, seorang pengendara sepeda motor.
HERU TRIYONO | FRANSISCO ROSARIANS | SAPTO Y





