Keluarga buruh migran berunjuk rasa didepan Departemen Luar Negeri, Jakarta, Jumat (30/10). Mereka meminta pemerintah segera menindaklanjuti nasib Raisem dan Suherlan yang dikabarkan meninggal dan memulangkan jenazahnya. ANTARA/Puspa Perwitasari
Topik
Bahas Kekerasan Buruh Migran di KTT ASEAN
TEMPO Interaktif, Jakarta - Analis kebijakan Migrant Care, Wahyu Susilo, menyatakan pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-18 di Jakarta harus dijadikan peluang memperbaiki kondisi buruh migran Indonesia. "Sayang sekali jika KTT ASEAN tak membawa perubahan bagi buruh migran," kata Wahyu di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu, 7 Mei 2011.
Menurut dia, kemakmuran negara ASEAN banyak disumbang oleh migrasi buruh migran. Sayangnya, komitmen politik para petinggi negara ASEAN masih rendah. Deklarasi Cebu tentang perlindungan hak buruh migran yang ditandatangani tahun 2007 belum dijadikan sebagai instrumen perlindungan buruh migran di masing-masing negara anggota ASEAN. "Komite ASEAN untuk buruh migran juga tak menunjukkan kemajuan," kata Wahyu.
Dia menilai, diplomasi Indonesia dengan negara lain amat lemah. Tiap ada kekerasan yang menimpa TKI, pemerintah jarang memanfaatkan hubungan yang ada di ASEAN. Begitu juga dengan perlindungan di dalam negeri terhadap buruh migran yang dianggap masih sangat lemah. "Undang-undang pekerja rumah tangga digagalkan di Prolegnas," ujar Wahyu.
Dia mendesak para petinggi ASEAN yang kini sedang berkumpul menjadikan perlindungan buruh migran sebagai agenda penting pembahasan. "Jangan hanya jadi pertemuan semu belaka dan arisan rutin tanpa hasil signifikan," kata Wahyu.
RIRIN AGUSTIA





