scientificamerican.com
Topik
Merkuri Mencemari Arktik
TEMPO Interaktif, Stockholm - Emisi merkuri global dapat tumbuh hingga 25 persen pada 2020 jika langkah-langkah pengendalian tidak segera diambil. Pencemaran merkuri di Arktik akan mengancam beruang kutub, paus, anjing laut, dan seluruh komunitas Arktik yang memburu satwa-satwa itu sebagai sumber pangan.
Studi sebuah lembaga ilmiah yang dibentuk oleh delapan negara di sekitar Arktik juga mengingatkan bahwa perubahan iklim mungkin akan memperburuk emisi merkuri. Bisa saja merkuri yang selama ribuan tahun tersimpan dalam es abadi terlepas ke udara. Perubahan iklim juga dapat mendorong terjadinya proses kimia yang mengubah substansi itu menjadi bentuk yang lebih beracun.
"Muncul kekhawatiran kadar merkuri terus meningkat di beberapa spesies Arktik di sejumlah wilayah Arktik, meski ada penurunan emisi di wilayah sekitarnya, seperti Eropa, Amerika Utara, dan Rusia," kata Arctic Monitoring and Assessment Program (AMAP).
Emisi merkuri meningkat pesat di bagian lain dunia, terutama di Cina, yang menjadi negara penghasil emisi merkuri nomor satu. Dalam laporannya, "Arctic Pollution 2011," yang dirilis dalam konferensi ilmiah Kopenhagen, Jumat pekan lalu, AMAP menyatakan setengah dari total emisi merkuri dunia berasal dari Cina.
Laporan lain yang dirilis pekan lalu dalam sebuah pertemuan yang dihadiri 400 ilmuwan memperlihatkan bahwa mencairnya es Arktik dapat meningkatkan permukaan laut hingga 1,6 meter pada abad ini, jauh lebih tinggi daripada proyeksi sebelumnya. Kedua hasil studi itu akan diserahkan kepada Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton serta menteri luar negeri Rusia, Kanada, Swedia, Norwegia, Denmark, Finlandia, dan Islandia pada pertemuan Arctic Council pekan depan.
Beruang kutub, paus beluga, dan anjing laut adalah beberapa spesies yang memperlihatkan peningkatan kadar merkuri di wilayah Arktik Kanada dan Greenland. Laporan polusi itu juga mengungkap bahwa kadar merkuri pada binatang lain turun di kawasan utara Eropa. Alasan penurunan itu belum diketahui, tapi sejumlah teori menduga binatang Eropa lebih dekat ke daerah yang emisi karbonnya telah menyusut.
AP | TJANDRA DEWI





